Perkenalkan, namanya Septian, biasa dipanggil Tian. Pemuda yg
punya kelebihan di sekitar wajah itu memiliki daya tarik yg sangat kuat. Saking
kuatnya, sampai-sampai satu sampai 2 saudara sepupu perempuannya sendiri
ngantri dipacari olehnya. Benar-benar kuat sekali magnetnya. Dan untungnya dia
adalah seorang laki-laki yg sangat beruntung. Dengan track record-nya,
orangtuanya nyaris percaya kalau dia adalah seorang anak laki-laki yg baik.
Bedanya, bagi mereka, dia adalah anak yg baik-baik. Bukan hanya sekedar tampan,
seperti arti namanya.
Perkenalkan lagi. Namanya Callista. Sesuai dengan namanya,
dia sangat cantik. Gadis yg punya banyak sifat baik ini punya banyak peluang
untuk berteman dengan siapa saja yg dia mau. Apalagi dia punya banyak kebaikan
di wajahnya. Belum lagi perangainya yg selalu tersenyum. Perangai yg terkenal
tdk pernah mau terlihat sedih atau kesal oleh teman-teman di sekitarnya.
Perangai yg menyenangkan, bukan? Selain itu
Callista adalah seorang artist. Ehem… maksudku adalah, seorang artist dalam artian
bule. Yaitu seorang seniman. Dia adalah seorang perempuan yg gigih melakukan
apapun dan rajin melakukan riset kecil-kecilan untuk bahan pamerannya sendiri.
Kebetulan dia memang ingin menjadi seorang seniwati muda yg punya pameran
tunggal di kotanya. Aku akui, atau iri lebih tepatnya, dia memang hebat.
Bagaimana tdk? Callista sama sekali tdk punya latar belakang
kesenian apa-apa. Benar-benar melatih bakatnya lewat media bernama otodidak.
Iya. O-T-O-D-I-D-A-K. Hehehe… aku ingin menekankan kata itu agar dia terkesan
istimewa.
Selain Callista, aku juga ingin memperkenalkan seseorang
bernama Nuria yg artinya adalah Cahaya Tuhan. Nama yg bagus dan dahsyat bukan?
Percaya sajalah. Dia memang seseorang yg dahsyat. Dia adalah seorang perempuan
yg berani menunjukkan pada dunia siapa dirinya. Bagaimana ambisiusnya dia.
Bagaimana cantiknya dia. Dahsyat! Sampai-sampai ketika dia tahu ada seseorang
yg meng-‘gali’-nya agar bisa kenal dan lebih dekat dengannya dengan harapan
menjadi seorang pacar, dia berani datang langsung ke rumah si secret admirer
tadi untuk menanyakan secara langsung tentang kebenarannya.
Hehehe… Dahsyat, ya?
Suatu kala Tian berkata padaku, “Hei… aku punya cerita bagus
tentang seseorang. Namanya Callista. Mau aku kenalkan?”
“Mau. Anak mana? Kamu mau bawa dia ke hamparanku? Terima
kasih… aku akan sangat senang sekali, Tian…” kataku.
“Seseorang yg sudah lama aku kenal. Seseorang yg aku tahu dia
akan selalu ada untukku sampai kapan pun. Seseorang yg… Sudah, ah! Nanti juga
kamu tahu sendiri!” jawabnya penuh tanda tanya. Seolah-olah akan memberiku
sebuah kejutan.
“Oke, aku akan menunggu!” kataku, lalu kutinggalkan dia
dengan wajah tersenyum.
Aku tahu benar dia sedang jatuh cinta. Aku cukup kenal banyak
sikap laki-laki yg sedang jatuh cinta. Aku tdk mengatakan yg sebenarnya
kepadanya bahwa aku cemburu. Melihat teman laki-lakiku jatuh cinta secara
tiba-tiba. Bagaimana tdk? Dia satu-satunya teman dekat yg aku punya saat itu.
“Iya, aku tahu kamu sedang buru-buru, Tian. Tapi tdk cukup
butakah kamu memperkenalkanku yg sedang berpakaian compang-camping bau bantal
ini ke hadapan permaisurimu, heh?” tanyaku pada Tian, yg pagi-pagi benar
mendadak menjemputku tanpa pemberitahuan di hari sebelumnya.
“Sudah ah… buat apa tanya-tanya begitu kalau kamu sendiri yg
pamit sama Mama-Papa kamu untuk pergi main sama aku?” jawabnya cepat dan
lagi-lagi tersenyum.
Aku diam sebentar. Memikirkan apakah jawabannya cukup masuk
akal buatku. Ternyata memang masuk akal. Tapi tdk kujawab pertanyaannya itu.
Aku hanya manggut-manggut saja. Jujur, semakin cemburu aku kepadanya.
“Perkenalkan… wahai kalian berdua…” kata Tian membuka
perkenalan di pagi buta itu.
“Hei, aku teman Tian,” ujarku, menyodorkan telapak tangan
kanan.
“Iya, aku Callista. Sudah sarapan?” tanyanya aneh, tapi manis
untuk seorang yg baru berkenalan.
“Terima kasih sudah menanyakan. Tapi sayang sekali belum.
Tian memaksaku ikut dengannya saat aku masih terlelap di tidur. Kamu
benar-benar spesial buatnya,” ulasku cepat, dan membalas tersenyum.
Tdk ada jawaban atas pertanyaan yg bermisi tertentu itu
padanya. Namun satu hal yg tdk bisa aku lupakan darinya. Callista selalu
tersenyum. Ceria.
Beberapa tahun kemudian, aku berangkat ke Jakarta untuk
bekerja di sana. Aku tdk terlalu mengingatnya dengan betul. Maksudku Tian.
Seorang teman dekat yg sedikit banyak, astaga! Kucintai diam-diam dan cidaha
(cinta dalam hati).
Oya, aku lupa dan belum cerita. Aku dan Tian sebelumnya tdk
hanya sekedar menjalani hubungan pertemanan biasa saja. Tepat saat lima tahun
hari jadinya dengan si Callista, diam-diam dia lupa. Walaupun sebenarnya aku
tahu, aku hanya diam saja. Sengaja untuk tdk mengingatkan.
Aku ingat, hari itu dia sedang kesal-kesalnya bercerita
tentang seseorang bernama Nuria kepadaku. Dia bilang hari itu, dia hanya ingin
berdua saja denganku, karena dia memergoki dengan mata kepalanya sendiri:
seseorang bernama Nuria, telah menyakiti hatinya!
Nuria menggandeng laki-laki lain di hadapan Tian. Ternyata
diam-diam, Tian sudah resmi pacaran dengan seseorang bernama Nuria yg konon
belum aku kenal sebelumnya. Dasar bego! Dia muntahkan semua cerita itu di
hadapanku yg sudah terlalu dekat dengan si Callista.
Aku langsung tegang. Dan sontak kaget. Padahal aku tahu betul
bagaimana Callista. Gadis itu sudah menyerahkan segala-galanya untuk Tian,
Callista juga merupakan orang yg benar-benar setia. Bahkan tetap mengabdi pada
seorang pemuda bernama Tian. Seorang laki-laki yg aku tahu betul bahwa dia
tdklah setampan dan sebaik namanya.
Hari itu aku sedikit marah dan kesal pada Tian. Tapi aku
pendam. Aku biarkan saja. Aku pikir, selama dia tdk menyakiti hatiku, aku akan
biarkan dia menjelajah dan bergerilya menjadi seorang Cassanova muda.
“Sudah, ah. Aku bosan sama cerita kamu yg itu-itu saja,
Tian!” seruku, memotong kalimat tdk pentingnya tentang seseorang bernama Nuria.
Jujur saja, sekalipun aku sayang dan jatuh cinta padanya,
pada saat aku mengenal betul siapa dan bagaimana Callista yg sebenarnya… aku
juga mulai jatuh cinta; pada kepribadiannya yg menawan itu.
Bagaimana tdk? Callista rela menerima kembali cinta Tian ketika
banyak perempuan yg membenci tingkah dan kelakuan Tian setelah tiga tahun
berturut-turut. Menyaksikan kisah ini, aku… seperti hamba sahaja yg dimabuk
asmara.
Dan memang aku dimabuk asmara oleh Tian. Setelah Tian
memberikan kado terindah untukku di hari ulang tahun Nuria. Aku tdk tahu kenapa
aku tega melakukannya. Tapi pada suatu hari, Nuria diperkenalkan padaku oleh
Tian dalam sebuah acara ulang tahun. Namun sebagai seorang mantan kekasih.
Aku melihat mereka berpelukan sambil menangis. Dan kemudian,
aku yg tdk tahu apa-apa, digandeng dan kemudian diajak pergi oleh Tian yg usai
melepaskan pelukannya dengan Nuria dengan sedikit terpaksa. Aku juga sedikit
menangis. Aku merasakan bagaimana perasaan Tian. Dan kemudian, Tian
memandangku. Ia menengokkan wajahku ke hadapannya dengan sepasang tangannya yg
kekar, dan mengatakan padaku tegas.
“Hapus airmatamu yg meleleh itu. Aku tahu perasaan yg
menunggumu. Aku tahu ini, Sonya,” bisiknya, kemudian mencium bibirku yg
bergetar oleh tangis.
Aku ingin menolak, tapi dorongan dari dalam tdk dapat
berbohong. Aku balas melumat bibirnya dan tanganku meraih pundaknya, sedang
tangan Tian sendiri mulai meraba-raba pahaku dari dalam rokku yg makin
terangkat hingga terlihat jelas celana dalam dan selangkanganku.
“Sonya sayang, aku ingin membuat kamu jadi milikku seutuhnya.
Kamu mau kan?” bisiknya lagi, memandang mataku.
“Tentu saja, Tian… aku mau.” jawabku mesra dengan nafas mulai
memburu.
“Sayang… aku akan membuat kamu untuk tdk melupakan hubungan
kita dan aku mau kamu menjadi wanita pertama yg merasakan kenikmatan dariku,
mau kan?” katanya lagi dengan suara lembut setengah berbisik.
Aku mengangguk manja.
Sambil berbaring bersisian, ia mengecup bibirku yg sensual
sambil membuka habis bajuku. Tangannya yg cukup berpengalaman segera melepas
BH-ku yg berwarna pink, hingga terlihatlah dua bukit susuku yg besar dan halus.
Hal ini membuat kejantanan Tian cepat menjadi tegang.
“Wow… bagaimana kamu bisa punya yg seperti ini?” tanyanya
sambil mengagumi bulatan payudaraku yg putih, besar, dan montok; sekaligus juga
memandangi putingnya yg mungil lancip berwarna merah. Sejenak Tian
memandanginya sambil perlahan-lahan tangannya menjamah untuk membelai serta
mengusap-usap putingku yg kecil menggemaskan.
Kususupkan kepalaku di dadanya yg juga sudah telanjang.
“Honey.. jangan dilihat terus… aku kan malu!” kataku perlahan
dengan nada manja.
Ia tertawa perlahan sambil memelukku dengan mesra.
“Malu sama siapa? Sama aku ya?” jawabnya tersenyum geli
melihat kelakuanku.
“Iya, kamu laki-laki pertama yg melihat aku tanpa BH.” kataku
lagi.
Tian mengecup lagi keningku, lalu turun ke mataku yg indah,
hidungku yg bangir, dan terus turun hingga ke sudut bibirku yg sensual, merah
merekah indah disertai desahan-desahan kecilku yg terdengar olehnya. Di sana
Tian mempermainkan lidahnya dengan disertai sedikit gigitan-gigitan lembut.
”Ahhh…” aku menggelinjang, dan dengan tdk sabar balas
mengecup bibirnya buas, sementara tanganku mulai mengusap kepalanya.
Tian pun tak tinggal diam. Dengan segera tangannya turun ke
arah susuku yg menjadi kegemarannya bermain, ia meraba dan memutar-mutar
putingnya yg mungil. Membuatku jadi mengerang nikmat karenanya.
Tangannya terus turun, menyibak rok miniku, dan terus
berlanjut ke arah belakang tempat resletingku berada. Disana ia membukanya
secara perlahan-lahan. Aku diam saja hingga Tian bisa merasakan bahwa aku sudah
pasrah dengan apa yg akan ia lakukan.Tian segera menarik rokku ke bawah dan aku
membantu dengan mengangkat pinggulku untuk melepaskannya.
“Tian, peluk aku…” kataku dengan suara sendu membuyarkan
segala lamunannya saat memandangi tubuh telanjangku. Kembali ia memelukku. Di
balik celananya, bisa kurasakan k0ntol panjang Tian melakukan pemberontakan
dengan gila-gilaan.
Sambil menciumi bibir, leher, dan terus turun ke arah
gundukan payudaraku, Tian melepas celana jeansnya. Ia mengecup kedua putingku
yg merah muda berulang-ulang dengan lembut sampai benda mungil itu basah oleh
air liurnya. Ia kemudian menurunkan kecupan ke arah pusarku, sebelum akhirnya
bibirnya berhenti di atas lubang memekku yg sudah basah memerah, namun masih
tertutup oleh CD.
“Sayang… aku buka ya?” kata Tian sambil mulai menarik CD-ku
ke bawah melewati paha hingga lepas dari tubuhku.
Aku hanya bisa menganggukkan kepala dengan merintih kecil
merasakan segala sentuhannya. Tian memandangiku, kini dihadapannya tergolek
gadis perawan, telanjang, dengan lubang kewanitaan yg ditumbuhi bulu-bulu halus
teratur rapi nan cantik. Memekku masih tampak sangat sempit karena memang belum
pernah disentuh oleh laki-laki manapun.
Tian mengecup bibir atas benda indah itu, yg dengan serta
merta mengeluarkan aroma yg khas. Aku langsung menggelinjang, keluhan panjang
keluar dari mulutku yg manis begitu ia melakukan itu.
“Oohh… Honneeeyyy…!” aku sudah kehilangan kata-kata untuk
menyatakan kenikmatan yg baru pertama kali ini kurasakan karena umurku memang
baru 17 tahun.
Tian terus menjilati belahan memekku sambil perlahan-lahan
membuka pahaku yg sebelumnya menutup untuk menahan gejolak kenikmatan pada saat
ia pertama kali mengecup pucuknya. Pahaku yg putih mulus mulai terbuka sedikit
demi sedikit saat lidah Tian bermain-main dengan lembut. Klitorisku yg mungil
tampak merekah merah muda saat dikecup dan digigit-gigit kecil olehnya.
Hal ini membuatku mulai menggoygkan pantatku yg padat dan
kenyal dengan lebih gila. Kedua tanganku mencekal rambut Tian, menekankannya ke
arah memekku sambil berteriak kecil menahan kenikmatan. Bibir, hidung, serta
lidah Tian jadi basah semua oleh cairan memekku. Aku baru mengendurkan
cengkeraman saat telah mencapai orgasme. Tian tampak menjilat dan menelan habis
semua cairanku yg menetes keluar.
“Honey… sini, peluk aku.” rintihku sendu.
Tian bangun dan memelukku dengan lembut. Kulihat di mulut dan
hidungnya masih tercecer cairan bening milikku. “Cup.. cup.. cup..” segera aku
mengecupnya, kujilati sisa-sisa cairan yg masih ada di wajah Tian dengan penuh
nafsu. Ia membalas dengan menyentuh dan mengusap-usap susuku yg putih montok,
putingnya yg kecil merah ia pilin-pilin ringan.
“Honey…” desahku lembut.
“Apa, Sonya sayang?” jawabnya berbisik.
“Kamu sayang sama aku kan?” kataku lagi sambil memandang
serta membelai pipinya, menyentuh bibir Tian dengan jari-jariku.
“Tentu saja… ada apa? Kok nanyanya gitu, masih ragu sama
cintaku?” balasnya lembut dengan tangan tetap nakal bermain-main di atas puting
susuku yg menggairahkan.
“Bukan… soalnya aku belum pernah begini,” kataku lagi sambil
melirik ke arah matanya.
Tian balas memandang sambil tersenyum.
“Jangan dilihatin begitu dong… aku kan malu,” aku merajuk dan
lekas menyusupkan wajah ke lehernya, kakiku yg indah kubelitkan ke pinggangnya
seperti memeluk guling.
Saat itulah aku tersentak saat perutku menyentuh sesuatu yg
menegang di antara celah pahanya. Secara refleks aku mencoba untuk
merenggangkan tubuh, tapi dengan sigap Tian menahan dengan melingkarkan tangan
di pinggangku sambil berbisik,
“Jangan dilepas, Sayang… biarkan nempel. Aku ingin kamu
merasakan milik laki-laki yg menyaygimu, menyentuh kulitmu.” katanya dengan
nada pasti.
Aku terhenyak dan tegang untuk sesaat, tapi dengan sabar Tian
mencium keningku dan berkata menenangkan, “Kamu belum pernah melihat yg namanya
k0ntol laki-laki dewasa dalam keadaan tegang kan?” tanyanya sambil menatap
pasti ke arah mataku yg indah.
Aku jadi bingung harus menjawab apa. Selain rasa takut, juga
ada rasa penasaran dalam diriku. Sesaat aku terdiam, sebelum Tian dengan lembut
menatapku, berusaha membujukku dengan segala cintanya. Akhirnya dengan sikap
pasrah aku mengangguk pelan. Kami pun melepaskan pelukan, dan dengan
perlahan-lahan kutundukkan kepala untuk melihat ke arah bawah, menatap tanpa
berkedip pada benda coklat panjang di pangkal paha Tian.
“Ooohhh…” teriakku kecil, begitu kaget. Serta merta aku
memeluk leher Tian untuk menyembunyikan mukaku.
Tian tampak ingin tertawa melihat sikapku yg lugu itu.
“Kenapa, Sayang? Lihat saja, indah kan?” katanya menggoda.
“Nggak mau… aku malu!” jawabku tanpa melepaskan pelukan,
namun perlahan tapi pasti nafasku mulai agak sedikit memburu membaygkan
kejantanan Tian.
Dengan sigap ia memeluk pinggangku, kembali mendekatkan tubuh
telanjang kami berdua. Akibatnya, batang k0ntol Tian yg masih tegang itu
kembali menempel di antara memekku yg licin dan basah. Aku tentu kaget dan
berusaha melepaskan, tetapi Tian menahan pinggangku. Merasa percuma untuk
melawan, akupun diam. Bahkan perlahan-lahan ketegangan tubuhku mengendur, hanya
nafasku yg terdengar semakin terengah-engah.
“Honey… aahh… geli…” desahku lirih.
Pelukan Tian di pinggangku mengendur. Sambil menatap mataku
yg agak redup, ia berbisik,
“Sonya sayang… ini bagian dari perasaan cinta dan kasih
sayang. Ayo lihatlah…” Ia mengambil tangan kiriku dan mengarahkan menuju ke
batang kemaluannya yg masih tegang.
Aku mengikuti gerakan tangan itu sambil pelan-pelan
menundukkan kepala. Tian mengusapkan tanganku ke arah batang k0ntolnya, yg
segera kugenggam dengan lembut dan mesra. Bisa kurasakan nafas Tian jadi
sedikit memburu akibat perbuatanku, rupanya ia mulai merasa nikmat.
Dengan sabar Tian mengajariku bagaimana cara memainkan
k0ntol. Sesuai instruksinya, mulai kuurut benda itu dengan sangat lembut.
Kukocok k0ntol Tian secara pelan dan berirama. Sementara tangan Tian sendiri
kembali menyentuh memekku dan mulai mengelus bibir hangatnya dengan penuh rasa
cinta.
Untuk beberapa saat kami terus saling merangsang seperti itu,
sampai akhirnya Tian memelukku dan berbisik lirih, “Sonya sayang, aku ingin
kamu merasakan kenikmatan cinta yg sesungguhnya… kamu mau kan?” ia berkata
sambil menatap wajahku yg terlihat pasrah dan cantik.
“Tentu, Honey… semua akan aku berikan untukmu,” jawabku
lembut setengah tersenyum.
Dengan sabar dan lembut, tanpa melepaskan pandangan ke arah
mataku yg mulai setengah terpejam, Tian mulai merenggangkan kedua pahaku. Ia
kemudian mengarahkan k0ntolnya yg sudah menegang dari tadi ke atas memekku.
Lalu dengan lembut mengusap-usapkan ujungnya yg tumpul ke rekahan memekku
sambil mengecup bibirku lembut.
”Tahan ya, aku masukkan sekarang.” bisik Tian mesra.
Tangannya yg menganggur kembali menjamah bulatan payudaraku dan
meremas-remasnya lembut. Di bawah, kurasakan ia mulai mendorong batang
k0ntolnya secara perlahan-lahan.
“Ahhh… pelan-pelan… perih…” jeritku kecil saat kemaluan Tian
masuk kira-kira setengahnya ke dalam liang memekku.
Tian yg tersentak kaget, langsung berhenti bergerak.
“Maaf, Sayang.. sedikit lagi… atau dicabut saja?” tanyanya
sabar penuh rasa cinta.
Aku menggeleng.
“Jangan… pelan-pelan saja,” jawabku lirih.
Tian mengangguk.
”Tahan sebentar ya,” bisiknya mesra sambil meneruskan
penetrasi.
Aku kembali mengeluh lirih,
“Honey… aaah… sakit!” Nafasku memburu, terasa liang memekku
menahan batang k0ntol Tian.
Seperti ada batas yg menghalangiku. Aku tahu, itu adalah
selaput daraku.
Tian terlihat bingung untuk sejenak, antara meneruskan
aksinya atau menghentikannya. Ia nampak tdk tega melihatku yg merintih
kesakitan. Sambil berusaha mengatur nafas, ia diam beberapa saat sambil
memandang tubuhku.
“Gimana, Sayang… diteruskan?” Tian berbisik lirih.
Aku mengangguk. Dengan menahan nafas kubiarkan ia melanjutkan
tusukannya. Kugigit bibirku sambil menutup mata saat batang k0ntol Tian melesak
masuk merobek selaput daraku. Rasanya sungguh sakit tak terkira. Tapi aku
mencoba untuk terus bertahan. K0ntol Tian terus meluncur masuk menggesek kuat
dinding-dinding memekku yg sangat sensitif, dan baru berhenti saat menabrak
mulut rahimku.
”Ahhh…” kami melenguh secara bersamaan.
Tian tersenyum, sementara aku meringis menahan nyeri. ”Kamu
sudah nggak perawan,” kata Tian mencoba bercanda.
”Nggak apa kalau kamu yg mengambilnya,” balasku mencoba untuk
ikut tersenyum.
Tian selanjutnya mulai bergerak menghentakkan pinggulnya,
menyetubuhiku. Rasanya sungguh sakit, namun itu hanya awal-awal saja. Setelah
aku mulai terbiasa, dan lubang memekku mulai bisa menerima kehadiran batang
k0ntol Tian, kamipun mulai saling melenguh dan merintih mencari kenikmatan.
Tetesan darahku mengalir pelan membasahi sprei, bercampur dengan cairan memekku
yg semakin banyak keluar seiring batang k0ntol Tian yg bergerak keluar masuk
semakin cepat.
Dalam waktu yg tdk begitu lama, Tian tampak mulai tak tahan.
Jepitan dan kedutan lorong memekku yg masih sempit dan legit, membuat nafas
Tian jadi tdk karuan lagi iramanya.
“Honey… oohh… terus… sssh…” erangannya juga terdengar semakin
keras.
Ia memeluk tubuhku dengan erat saat k0ntolnya
berdenyut-denyut semakin cepat. Gerakan otot memekku yg menghisap batang
k0ntolnya membuat Tian mengalami orgasme hebat. Spermanya yg kental menyemprot
keras di dalam liang memekku. Kuterima segala sentuhannya itu dengan memagut
dan mengecup bibirnya lembut.
Beberapa saat, kami berpelukan seolah-olah tdk akan
melepaskan satu sama lain. Peluh kami berdua mengalir membasahi hampir di
seluruh tubuh; mulai dari punggung, leher, dada, hingga perut.
“Sayang, buka dong matanya.” kata Tian lembut sambil mengelus
pipiku.
Kubuka mata bulatku yg masih berkaca-kaca, campuran antara
rasa sakit dan nikmat setelah bersetubuh dengannya. Dua butir air mata tampak
mengalir dari sudutnya yg tipis. “Honey, kamu sayang sama aku kan?” kataku
dengan suara teredam.
“Tentu saja… aku sayang sama kamu, Sonya.” jawabnya dengan
memeluk dan mengecup keningku.
Maka begitulah, hari-hari setelahnya merupakan sebuah happy
ending untukku. Yg sama sekali tdk aku rencanakan. Kami makin mesra dan
lengket, dan aku bahagia. Sangat bahagia.
Tapi saat ini, itu semua hanya masa lalu. Sekarang aku punya
seseorang yg nyata untukku. Dengan berbekal pengalaman masa lalu, maka aku tahu
siapa yg layak berdampingan denganku sampai menutup mata! Hm, kukira kamu pun
mendamba pendamping yg baik dengan segunung cinta sejati, bukan?
Aku putus dengan Tian. Kabarnya setelah itu, ia mencoba
mendekati lagi Callista dan Nuria. Tapi ditampik oleh keduanya.
Callista akhirnya berhasil berhubungan baik denganku, setelah
tahu bagaimana Tian yg sebenarnya. Dia juga sudah bekerja di sebuah perusahaan
ternama di kota kami, dan menikah dengan sahabat masa kecilnya yg rajin
menghiburnya di saat Tian meninggalkannya.
Sedangkan Nuria menikah dengan calon pilihan Ibunya.
Pengusaha real estate ternama di Bali. Dan kemarin berhasil ngobrol panjang
lebar denganku melalui telepon, sekedar menyapa dan memberitahukan kabar
gembira bahwa saat ini dia sudah dikaruniai dua orang anak yg cantik-cantik dan
lucu-lucu.
Aku sadar. Aku bukan siapa-siapa. Kalau saja aku tahu dengan
benar siapa Tian yg sebenarnya, tentu aku tdk akan mudah melepaskan perawanku.
Satu hal yg aku sesali sampai saat ini. Tapi darinya, aku belajar dengan baik
tentang semua hal. Tentang seseorang yg sama sekali tdk peduli terhadap
perasaan seseorang yg tulus mencintai. Tentang bagaimana seharusnya menghargai
seseorang yg tulus. Adalah sesuatu yg sebenarnya mudah untuk dilakukan, tetapi
tdk dilakukan olehnya. Hingga akhirnya merugikan dirinya sendiri.
Tian meninggal di sebuah rumah sakit setelah didiagnosis
terjangkit virus HIV. Dan hari ini adalah tepat seratus hari kematiannya.
