Seperti halnya umumnya orang
lain, setelah selesai Kuliah kemudian cari kerja dan nikah. Demikian pula
dengan kehidupan yg kujalani, sejak setamat dari SLTA di Kotaku di Jawa Tengah,
aku melanjutkan Kuliah di Bandung di suatu Universitas ternama. Tahun 1994
adalah tahun kelulusanku dan di tahun itu pula aku diterima di suatu Perusahaan
BUMN setelah melalui penyaringan beberapa kali dan sangat ketat.
Kehidupan
ini kujalani seolah tanpa hambatan, lancar-lancar saja, tdk seperti yg
kebanyakan orang bilang bahwa kehidupan ini penuh perjuangan dan sulit untuk
mencari kerja. Hal ini pernah aku syukuri bahwa ternyata aku diberikan banyak
kemudahan-kemudahan oleh Tuhan didalam mengarungi kehidupan dijaman serba sulit
ini.
Karena telah merasa cukup dan
sedikit mempunyai kemampuan untuk membina Rumah Tangga maka pada tahun 1995 aku
beranikan diri untuk melamar dan melakukan kesepakatan untuk menikah dengan
seorang gadis Cantik idamanku yg sejak semester awal kuliah aku mengenalnya dan
sejak saat itu pula aku bersepakat untuk pacaran.
Sebut saja namanya Susan, gadis
asal Jawa Barat dengan kulit putih mulus yg sangat terawat dengan rambut hitam
kelam yg lebat. Hal ini sangatlah wajar karena ditunjang dengan kemampuan
materi Orang Tuanya yg sebagai pengusaha. Perbedaan usia hanya satu tahun
antara aku dan Susan yg sekarang sudah menjadi istriku, aku lebih tua dan kini
usiaku 36 tahun.
Banyak teman-temanku bilang bahwa
aku adalah laki-laki yg sangat beruntung bisa beristrikan seorang wanita
seperti Susan istriku. Disamping orangnya baik, supel, cantik, padat berisi,
kaya lagi. Bulu-bulu halus tumbuh agak lebat dilengannya yg sangat mulus.
Pernah seorang teman bilang bahwa
"dijalan raya saja banyak
kendaraan apalagi diterminal".
Hal itu memang suatu kenyataan
dan merupakan gaya tarik yg sangat luar biasa yg bisa menimbulkan birahi yg
menggebu-gebu bila melihat istriku Susan telah melepaskan semua pakaian yg
menutupinya, dengan kulit yg putih mulus dan bulu-bulu hitam lebat diantara
pangkal kedua belah pahanya yg sangat kontras, sungguh hal ini yg membuat aku
semakin tak tahan untuk berpisah lama-lama dengan istriku. Tinggi badan istriku
167 cm dan beratnya saat ini sekitar 53 kg.
Kehidupan rumah tanggaku telah
kujalani dengan penuh kebahagiaan selama kurang lebih delapan tahun, apalagi
pada tahun ketiga pernikahanku telah lahir seorang anak laki-laki yg tumbuh
dengan sehat dan lucu yg kini telah berusia 5 tahun. Ditambah lagi pada tahun
ke-enam pernikahan, kami pindah ke rumah yg kami beli dari hasil jerih payahku
sendiri selama ini walau hanya merupakan rumah KPR bertype 45. Kalau
dibandingkan dengan rumah mertua sangatlah tdk seimbang dan istriku sangat
menyukainya karena segala sesuatunya dialah yg mengaturnya tanpa harus campur
tangan orang lain seperti sebelumnya yaitu di rumah orang tuanya.
Dirumah kami inilah awal dari
segala perubahan kehidupan yg aku rasakan sangat bahagia menjadi suatu siksaan
dan tekanan bathin yg menimpa diriku hingga kini. Awalnya setelah hampir
setahun tinggal dirumah sendiri, istriku berangsur-ansur sudah mempunyai
kebebasan, keleluasaan termasuk untuk menyampaikan uneg-unegnya yg selama ini
terpendam, yg aku sendiri sebagai suami telah disadarkan bahwa ternyata didalam
kehidupan sexual istriku masih banyak ketdk puasan atas sikap dan kemampuanku
sebagai seorang suami selama ini. Memang selama ini aku didalam melakukan
hubungan senggama tdk bisa bertahan lama, paling lama mungkin hanya 20 menit
itupun kalau aku dalam kondisi fit.
Walau sebelumnya
sudah melakukan pemanasan dan aku sering melihat, merasakan bahwa memek istriku
sudah basah pertanda adanya rangsangan. Tragisnya bila pemanasan dilakukan
terlalu lama maka semakin aku tak tahan untuk berlama-lama. Aku telah berusaha
berkali-kali untuk pengaturan waktu agar terjadi kelambatan dan penundaan dalam
penyemprotan (ejakulasi), semua itu pasti mengalami kegagalan. Cerita Sex
Memuaskan Birahi Istriku
Yg aku rasakan bila sedang
berhadapan dengan istriku dalam melakukan senggama adalah gairahku yg menggebu
dan kenikmatan-kenikmatan yg tiada tara bila k0ntolku telah kumasukan dalam
memeknya, dan berikutnya aku slalu tdk bisa mengendalikan diri lagi sehingga
dalam tempo yg singkat pertahananku pasti tak terbendung lagi. Perlu diketahui
bahwa sejak pernikahan hingga kini hampir tiada perubahan atas alat kewanitaan
istriku, selalu terasa sempit dan nikmat. Hal ini dimungkinkan karena pada saat
melahirkan anakku satu-satunya dengan cara Caesar sehingga secara phisik tdk
banyak perubahan.
Aku telah berusaha untuk
mengkonsumsi obat-obatan dan sering pula untuk konsultasi ke dokter tetapi
hasilnya belum juga adanya hasil dan perubahan yg diharapkan atas daya tahanku.
Pada awal-awal pernikahan dulu, aku bisa melakukan senggama berulang-ulang
hingga 4 atau 5 ronde dalam semalam dan itupun umumnya yg ke 4 atau ke 5 yg
mempunyai daya tahan dan dapat mengimbangi kemauan istriku.
Tapi saat ini dua rondepun sangat
sulit aku lakukan, biasanya bila telah mengeluarkan sperma, badanku terasa
lunglai dan ngantuk yg amat sangat. Mungkin hal ini akibat berat badanku yg
sudah tdk seimbang lagi dengan tinggi badanku dimana perutku sudah membuncit
dan sama sekali tdk atletis. Tinggiku 170 cm dan beratku 83 kg. Sejak masa SLTP
aku mempunyai kegemaran atau hobby yg hingga kini masih sering aku lakukan.
Kegemaran tersebut adalah bermain
Catur. Kegemaran ini sering aku lakukan dengan orang-orang atau teman pada
saat-saat senggang dan sudah merupakan rutinitas hingga kini yaitu pada setiap
Jumat malam aku bermain catur dengan seorang tetanggaku yg bernama Bimo. Kadang
Sabtu malampun bila sama-sama tdk mempunyai acara lain yg lebih penting kami asyik
bermain Catur hingga kami betul-betul sudah capek dan suntuk.
Sabtu dan minggu kebetulan
sama-sama merupakan hari libur buat kami berdua. Dia kami kenal sejak pindah di
perumahan yg kami tinggali saat ini dan Bimo ini walau sudah bekerja, mempunyai
rumah sendiri dan berusia mendekati angka 33 belum juga menikah. Orangnya
tampan dan mempunyai tinggi tdk beda jauh dengan diriku, hanya saja badannya
lebih atletis. Disamping mempunyai kegemaran bermain Catur, dia juga mempunyai
jadwal rutin untuk bermain tennis. Bimo inilah yg akhirnya semakin membuat
bathinku menjadi tertekan dan tak berkutik untuk menghadapai gelombang
percaturan cinta istriku hingga kini.
Dengan media papan catur ini,
hubungan antara keluargaku dengan Bimo menjadi akrab dan dekat. Kedekatan yg
masih dalam batas wajar-wajar saja, begitupun hubungan antara istriku Susan
dengan Bimo, masih dalam etika kewajaran tanpa ada sesuatu yg perlu dicurigai.
Sudah menjadi kebiasaan istriku, bila kami sedang bermain catur dan anakku
sudah lelap tidur, istriku ikut juga menemani sambil memberikan dukungan untuk
menyediakan secangkir kopi dan aneka camilan.
Karena sudah terbiasa dan akrab,
dalam menemani kami bermain catur, istrikupun dalam berpakaian juga biasa saja
yaitu kadang pakai celana pendek ataupun baju tidur dan biasanya istriku hanya
mampu menemani hingga jam 12 malam yg selanjutnya berpamitan untuk tidur lebih
dulu. Permainan catur ini kami lakukan diruang keluarga dengan ber-alaskan
karpet dan kadang dalam menemani kami, istriku menggelar kasur lipat sambil
nonton TV.
Aku pernah beberapa kali melihat
mata Bimo mencuri-curi pandang pada bagian-bagian tubuh indah istriku pada saat
menemani kami bermain catur ataupun pada saat istriku sedang tiduran dikasur
lipat tapi semua itu aku abaikan. Dan pernah aku rasakan permainan catur Bimo
sangat tdk bagus dan kurang kosentrasi, dan setelah aku cari tahu penyebabnya
ternyata aku melihat bahwa matanya sering terarah ke paha mulus istriku yg saat
itu duduk disebelahku. Cerita Sex Memuaskan Birahi Istriku
Inipun aku abaikan bahkan aku
merasa bangga mempunyai istri yg memang penuh dengan kekaguman. Tapi suatu
Jum"at malam kira-kira enam bulan yg lalu, pada saat permainan catur baru
beberapa babak, aku merasakan kantuk yg amat sangat setelah minum kopi yg disediakan
istriku dan hal ini kusampaikan pada istriku yg saat itu menemani kami.
"Ma.. Papa kok ngantuk berat
yaa.."
"Masak sih.. Papa khan udah
minum kopi? Masak masih ngantuk juga.."
Dan berikutnya aku nggak bisa
tahan lagi, aku terlelap dan tak ingat apa-apa lagi. Apakah Bimo langsung
pamitan pulang, akupun tak tahu. Yg aku tahu pagi-pagi aku bangun dalam posisi
ditempat tidurku dalam kondisi badan yg sangat segar.
Jum"at malam berikutnya
berjalan biasa saja, permainan caturku dengan Bimo berakhir hingg jam 3 pagi
dan Bimo berpamitan untuk pulang. Begitu juga dengan Jum"at malam
selanjutnya tanpa ada rasa kantuk tapi Sabtu malam kami bermain catur lagi
karena sama-sama tdk mempunyai acara masing-masing dan rasa kantuk menyerang
aku lagi sekitar jam masih menunjukan pkl 10.15 malam.
Kali ini aku pamitan untuk tidur
dan Bimo kuanjurkan untuk pulang. Pada saat masih tersisa kesadaran sebelum
terlelap, aku sempat istriku berbicara sama seseorang sesaat setelah
mengantarku ke kamar tidur dan kejadian selanjutnya aku tak tahu apa-apa.
Timbul tanda-tanya dan curiga
pada diriku, kenapa rasa kantuk begitu tiba-tiba, dan akhirnya aku sempat
curiga telah terjadi sesuatu pada istriku apalagi akhir-akhir ini tampilannya
tambah seksi dan merias diri. Aku tdk mau sembrono dengan semua ini dan aku tdk
mau menyakiti istriku atas kekeliruan akibat kesalah dugaanku yg tanpa bukti.
Maka pada saat menjelang tiba
jadwal catur rutinku dengan Bimo, aku mempersiapkan diri mengatur strategi agar
semua apa yg ada dibalik kecurigaanku bisa terjawabkan. Sekitar jam 7 malam,
aku telah mengkonsumsi (minum) obat anti kantuk. Hal ini aku lakukan karena aku
telah curiga bahwa didalam minuman kopi yg disediakan istriku telah dicampuri
obat tidur.
Permainan catur dimulai sekitar
jam 19.30, semua berjalan seperti biasanya. Istriku menemani dengan tampilan
terkesan sangat ceria. Kopipun aku minum seperti biasanya tapi hanya seperempat
gelas saja. Sekitar jam 10.00 malam, aku merasa sedikit kantuk, dan sesuai
strategi dan rencana, aku pura-pura ngantuk sekali dan selanjutnya aku
pura-pura tak tahan lagi sehingga istriku memapahku ketempat tidur.
Beberapa saat kemudian,
sayup-sayup terdengar istriku melakukan dialog dengan seseorang dan dengan
perlahan-lahan aku intip dari lubang kunci, ternyata istriku sedang duduk
berhadap-hadapan diantara papan catur dengan Bimo. Mereka seolah-olah lagi
bermain catur.
Beberapa menit kemudian istriku
beranjak menuju kekamar tidurku dan buru-buru aku segera memposisikan diri
seolah tertidur lelap. Istriku menggoyang-goyangku seolah mau membangunkanku.
"Pa.. Pa.. gimana nih
caturnya? Mau dilanjutin?"
Aku diam seolah pulas sekali dan
istriku keluar kamar yg sebelumnya menyelimutiku dan menghidupkan lampu tidur
dikamarku. Sekitar dua menit kemudian, aku mencoba mengintip lagi dari lubang
kunci, ternyata papan catur telah ditinggalkan begitu saja. Diantara kerasnya suara
TV, aku masih sedikit mendengar bahwa istriku telah melakukan aktifitas, apa
itu, akupun belum tahu.
Kemudian aku ambil kursi rias yg
ada dikamarku secara perlahan dan kutaruh dekat pintu. Dengan harapan aku bisa
melihat aktifitas istriku melalui ventilasi diatas pintu kamarku. Betapa
terkejutnya aku, ternyata istriku sedang berpagutan mesra diatas kasur lipat
dengan Bimo. Badanku secara mendadak menggigil dan mengeluarkan keringat
dingin. Aku bingung dan serba salah, apa yg harus aku lakukan, aku tak tahu.
Sejenak aku ingin membuka pintu
dan menghentikan tindakan pengkianatan yg dilakukan istriku dan Bimo, tapi
keberanian itu menjadi padam begitu aku teringat bahwa istriku sering mengeluh
atas ketdk mampuanku untuk bertahan lama dalam senggama. Aku bingung dan
kulihat lagi mereka yg ternyata tangan kanan Bimo telah menyelinap didalam
celana pendek istriku.. Och.. semakin aku tak mampu berbuat apa-apa.
Sekilas sempat aku berpikir
mungkin perbuatan mereka kali ini bukan yg pertama kali dan semakin aku yakin
bahwa selama ini istriku telah sengaja memasukan obat tidur pada kopiku
sehingga mereka leluasa untuk bermain catur birahi dan dengan demikian maka
tetangga yg lain tak akan pernah curiga.
Bimo dengan semangatnya melahap
bergantian kedua puting susu dihadapannya dan tangannya telah berhasil
memelorotkan celana pendek istriku. Aku hanya termangu menyaksikan aksi mereka
berdua yg nampak saling semangat dan saling menyerang. Jantungku semakin
berdebar. Sesaat kemudian mereka berdiri sambil melepaskan pakaian
masing-masing, sesaat kemudian baik istriku dan Bimo telah telanjang bulat.
K0ntol Bimo telah berdiri kencang dan tegak, diameternya tdk beda jauh dengan
punyaku tapi panjangnya mungkin sedikit lebih panjang punya Bimo.
Istriku dipepetkan ditembok,
mereka saling berciuman dengan ganas sekali, tangan kanan istriku meremas-remas
k0ntol Bimo dan tangan kanan Bimo menggesek-nggesek memek istriku. Terlihat
istriku tdk sabaran, k0ntolnya Bimo diarahkan ke memeknya dengan sedikit kaki
kiri istriku diangkat Bimo maka masuklah senjata Bimo pada memeknya, terlihat
istriku memejamkan mata.
"Oooch.. kocok Dik Bimo..
kocok.."
Dengan gerakan naik turun, Bimo
mengocok berulang-ulang dan badan mereka berdua semakin mengkilap karena
keringat.
"Cek.. cek.. pleek.. plek..
ceck.."
Sesaat kemudian kocokan Bimo
berhenti
"Mbak Susan.. enak sekali
memeknya.. terasa kenyuut-kenyuut.."
"K0ntolmu juga Dik Bimo..
gagah perkasa.."
Kemudian gantian kaki kanan
istriku diangkat dengan tangan kiri Bimo dan kocokan dilanjutkan lagi.
"Och.. ooch.. enak Dik..
teeruuss.. kocok teruuss.."
"Mbak.. aku mau keluar
Mbak.."
"Jangan dulu Dik Bimo..
jangaann.. akuu masih pingiinn lama-lama Dik"
"Nggak tahaann Mbaak.. aku
nggaak tahan.. uenaakk Mbakk.."
Terlihat Bimo menghentikan
kocokannya dan semakin menekan dalam-dalam k0ntolnya dalam memek istriku.
"Ma'af Mbak.. aku nggak
tahaann.. ma'aaf.. oocchh.. oocchh.."
Istriku memeluk erat-erat tubuh Bimo
seolah nggak mau dilepas seterusnya.
"Kenapa buru-buru dikeluarin
Dik.., aku belum dapet lho.."
"Sabar Mbak.. betul-betul
aku nggak tahaann.. wuennaakk buuanget.. memek Mbak hangett sekali dan waouw..
suereett Mbaak.."
Sesaat kemudian terlihat k0ntol
Bimo terlepas dari memek istriku dan dibarengi tetesan sperma dari dalam memek
istriku dan istriku mengambil handuk kecil untuk mengeringkan keringat serta
membersihkan memeknya.
Oochh hanya segitu kemampuan si
Bimo (pikirku), aku agak lega ternyata kemampuannya tdk beda jauh dengan
kemampuanku. Aku menghela nafas panjang, dan berharap mudah-mudahan istriku
menjadi kapok karena tdk terpuaskan oleh Bimo dengan begitu pasti tdk akan
mengulanginya lagi. Tapi.. kenyataannya lain dari dugaanku..
Bimo betul-betul dapat layanan
spesial dari istriku, diambilkannya segelas air minum dingin dan diminum
bergantian dengan istriku. Sambil bersandar di dinding, kaki Bimo diselonjorkan
dan istriku mendekati Bimo dengan duduk berhadapan diatas pangkuannya.
"Mbak.. susunya masih
kenceng dan bulu-bulu memek Mbak yg lebat ini (sambil tangan kanan Bimo
mengelus mesra memek istriku), membuatku ingin tiap malam bertandang kerumah
Mbak ini.."
"Sama Dik Bimo.. aku sendiri
tiap hari rindu sama k0ntolmu yg ini..", (sambil tangan kanan istriku
mengelus k0ntol Bimo yg masih lunglai).
Mereka saling kecup dan saling
pagut kembali, tangan kiri Bimo memeluk punggung istriku dan tangan kanannya
mengelus-elus secara bergantian gumpalan bokong istriku yg mulus dan
menggairahkan, sesekali jari tengah Bimo mengusap memek dan permukaan anus
istriku sehingga istriku melakukan gerakan-gerakan berkedut akibat geli-geli
nikmat.
"Ouuw.. ouucwww.. woouuwww..
geli Dik Bimo.."
Tak kalah lihainya, tangan kanan
istriku meremas-remas K0ntol Bimo yg sudah agak mulai mempunyai semangat baru.
Badan Bimo bergeser kearah kasur lipat yg sedari tadi belum dimanfaatkan sambil
istriku tetap dipangkuannya. Dan sekarang istriku dalam posisi diatas dan masih
menunduk karena pagutan yg terlihat mulai panas kembali.
Kedua tangan Bimo meremas-remas
bongkahan bokong istriku yg semakin lama bergerak berputar-putar tak karuan.
Istriku terlihat mulai bangkit lagi semangatnya yg terpendam akibat belum
terpuaskan. Kecupan demi kecupan istriku menjalar dari bibir Bimo, ke leher, ke
dada dan puting Bimo dan terakhir berhenti sejenak mengulum membasahi helm
k0ntol Bimo yg sudah berdiri tegak siap perang kembali.
Istriku terlihat sudah nggak
tahan begitu melihat k0ntol Bimo tegak menantang, dan segera dituntun untuk
dimasukkan kedalam memeknya. Diputar-putar kepala k0ntolnya di bibir memeknya
yg sedikit berlendir dengan tangan kanannya dan sesaat kemudian, blless..,
istriku sedikit menjerit histeris.
"Woouuwww.. heehhii..
heehhii.."
Badan istriku sedikit bergetar
dan diam sejenak sambil kedua tangannya bertumpu pada dada Bimo, sebaliknya
kedua tangan Bimo meremas-remas buah dada istriku. Mulanya dengan gerakan
sedikit memutar dan kemuadian istriku menaik turunkan pantatnya.
"Teruuss Mbak.. terruuss
Mbak.. teerruuss.."
"Kocok Mbak Susan sayang..
kocokk.. putaarr.. dan.. teerruuss.."
"Woouwww.. woouwww.. enakk
Dik.. woouwww.."
Sambil sedikit membungkuk,
istriku melakukan gerakan tarik tekan berulang-ulang, semakin lama semakin
cepat dan beberapa saat kemudian.
"Woouuwww.. woouuwww.. akuu
mau keluar Dik Bimo.. woouwww.."
Gerakan tarik tekan istriku
semakin kenceng dan mendadak terdiam sambil pantatnya berdenyut-denyut
menekan-nekan.
"Woouuwww.. woouwww.. aakkuu
keluar Dik Bimo saayyaanngg.."
Mereka saling berpelukann erat
dan pantat istriku masih berdenyuutt kenyuutt menekan-nekan seolah-olah K0ntol
Bimo akan dilahap dimasukkan kedalam memeknya sedalam-dalamnya tanpa sisa.
"Wwoouuwww.."
Napas istriku terlihat
tersengal-sengal dan berangsur-angsur menjadi diam tanpa gerakan sedikitpun
karena lunglai kenikmatan yg habis diraupnya. Bibir Bimo dikecupnya
berulang-ulang.
"Terimakasih Dik Bimo..
terimaksih.. wuennaakk sekali.."
Bimo mulai sedikit melakukan
gerakan menaik turunkan k0ntolnya dimemek istriku perlahan-lahan dan gerakan
itu rupanya disambut oleh istriku yg masih ingin mencari kenikmatan-kenikmatan
yg sudah lama tdk didapatkan dari aku suaminya.
Dengan posisi sedikit dirubah,
istriku bertumpuh dengan kedua lututnya disamping pinggul kiri kanan Bimo,
istriku mulai memompa dan menggosok-gosokan memeknya pada tiang kemerdekaan
Bimo. Perlahan tapi pasti dan semakin lama semakin cepat kocokan-kocokan yg
dilakukan mereka berdua. Istriku dengan gerakan angkat tekan dan Bimo gerakan
tarik dorong keatas sekencang-kencangnya dan itu semua menimbulkan bunyi.
Istriku mulai terpancing lagi dan…. Cerita Sex Memuaskan Birahi Istriku
"Zzhh.. woouwww.. zzhh..
woouwww.. zzhh.. woouwww.."
"Terruuss.. yyaa..
teerruuss.. hmemmhh.. yaa.."
Gerakan mereka berdua semakin
berpacu.. kencang.. dan keraass seolah mereka mau mengakhiri semuanya dan.
"Aku mau keluar lagi Dik
Bimo sayaangg.. teerruuss.. teerruuss.."
Mendadak istriku memeluk erat dada
Bimo, gerakan sama sekali berhenti dan kembali lagi bongkahan pantat istriku
berdenyut-denyut menekan-nekan tanda kenikmatan yg tiada tara.
"Mbak Susan.. memeknya
semakin licin dan kenyuutt-kennyuutt Mbak"
"Wuenakk Mbak.. k0ntolku
terasa dipijit-pijit.. Mbak Susan sayaang.."
Setelah berhenti melakukan
gerakan beberapa saat, istri langsung dibalik oleh Bimo sehingga posisinya
dibawah. Ternyata Bimo belum sampai final. Dengan rakusnya Bimo menghisap
puting susu istriku yg semakin memerah dan kenceng. Istriku
menggelinjang-nggelinjang ke-enakan dan pantat Bimo mulai memompa naik turun.
Gerakan Bimo memompa naik turun
lama sekali. Kemudian Bimo menghentikan kocokannya dan akhirnya kaki kiri
istriku diangkat tegak lurus dan ditekan-tekannya k0ntolnya sekencang-kencangnya.
"Teruuss.. teruuss.. Dik
Bimo.. teruuss.. dinding rahimku terasa tersundul-sundul.. wuennaakk Dik..
teruuss dikk.."
Bimo mengganti kaki kanan istriku
yg sekarang diangkat dan tekanan demi tekanan semakin membuat keringat mereka
berdua bercucuran.
Dalam hatiku, edan tenan
tetanggaku ini. Di satu sisi dia sebagai lawan seru caturku. dan disisi lain
ternyata dia menjadi lawan tanding birahi sex istriku. Aku mangaku kalah dalam
mengontrol daya tahan tetapi aku tak boleh menyerah.. aku harus bisa.. tapi..
apa mungkin aku bisa. Aku sedari tadi diam tertegun melihat keganasan mereka
berdua dan aku hanya bisa meremas-remas k0ntolku yg basah karena lendir akibat
terangsang hebat. Badanku terasa kelu dan kaku karena depresi, tegang dan
amarah yg menjadi satu.
Kulihat lagi permainan mereka,
dan ternyata kini kedua kaki istriku diangkat dengan cara tangan kiri Bimo
memegang pergelangan kaki kanan istriku dan sebaliknya tangan kanan Bimo
memegang pergelangan kaki kiri istriku. Yg menjadi iri dan aku tertegun, selain
Bimo masih mengocok k0ntolnya, kedua kaki istriku dimainkan dengan cara
dirapatkan tegak lurus dan kemudian dikangkangkan, begitu terus berulang dan
terlihat dari mimik wajah istriku, dia menikmati semua gerakan yg dilakukan
oleh Bimo.
"Ech.. ouw.. ouw.. yaou..
teruuss.. terruss.. oeii.."
Beberapa menit kemudian gerakan
maju mundur Bimo semakin kencang dan.
"Mbak.. aku nggak kuat lagi
Mbak.. aku keluarin didalam yaa.."
"Nggak papa Dik.. semprotkan
semuanya di dalam.. ayoo.."
Dan gerakan Bimo mendadak
berhenti sambil memeluk kedua kaki istriku, pantatnya semakin ditekankan
kedepan dan berkedut-kedut.
"Oochh.. ouch.. creett..
creutt.. cruutt.."
Bimo rebah dipelukan istriku.
