Karena daerah perumahan tersebut
masih baru maka jumlah keluarga yg menempati rumah di situ masih relatif
sedikit tetapi khusus untuk blok daerah rumah saya sudah lumayan banyak dan
ramai.
Dari
hasil bergaul tersebut timbul kesepakatan di antara ibu-ibu di blok daerah
rumahku untuk mengadakan arisan sekali dalam sebulan dan diadakan bergiliran di
setiap rumah pesertanya.
Suatu ketika sedang berlangsung
acara arisan tersebut di sebuah rumah yg berada di deretan depan rumahku,
pemilik rumah tersebut biasa dipanggil Bu Indah (bukan nama sebenarnya) dan
sudah lebih dulu satu tahun tinggal di daerah perumahan ini daripada saya.
Bu Indah bisa dibilang ramah,
banyak ngomongnya dan senang bercanda dan sampai saat tulisan ini aku buat dia
baru mempunyai satu anak, perempuan, berusia 8 tahun walaupun usia rumah
tangganya sudah 10 tahun sedangkan aku sudah 30 tahun. Aku menikah ketika masih
berusia 22 tahun. Suaminya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan kehidupannya
juga bisa dibilang kecukupan.
Setelah acara arisan selesai saya
masih tetap asyik ngobrol dengan Bu Indah karena tertarik dengan keramahan dan
banyak omongnya itu sekalipun ibu-ibu yg lain sudah pulang semua. Dia kemudian
bertanya tentang keluargaku, “Jeng Mar. Putra-putranya itu sudah umur berapa,
sih, kok sudah dewasa-dewasa, ya?” (Jeng Mar adalah nama panggilanku tetapi
bukan sebenarnya) tanya Bu Indah kepadaku.
“Kalau yg pertama 18 tahun dan yg
paling ragil itu 14 tahun. Cuma yaitu Bu, nakalnya wah, wah, waa.. Aah
benar-benar, deh. Saya, tuh, suka capek marahinnya.”
“Lho, ya, namanya juga anak
laki-laki. Ya, biasalah, Jeng.”
“Lebih nikmat situ, ya. Anak cuma
satu dan perempuan lagi. Nggak bengal.”
“Ah, siapa bilang Jeng Mar. Sama
kok. Cuma yaitu, saya dari dulu, ya, cuma satu saja. Sebetulnya saya ingin
punya satu lagi, deh. Ya, seperti situ.”
“Lho, mbok ya bilang saja sama
suaminya. ee.. siapa tahu ada rejeki, si putri tunggalnya itu bisa punya adik.
Situ juga sama suaminya kan masih sama-sama muda.”
“Ya, itulah Jeng. Papanya itu
lho, suka susah. Dulu, ya, waktu kami mau mulai berumah tangga sepakat untuk
punya dua saja. Ya, itung-itung mengikuti program pemerintah, toh, Jeng. Tapi
nggak tahu lah papanya tuh. Kayaknya sekarang malah tambah asik saja sama
kerjaannya. Terlalu sering capek.”
“O, itu toh. Ya, mbok diberi tahu
saja kalau sewaktu-waktu punya perhatian sama keluarga. ‘Kan yg namanya kerja
itu juga butuh istirahat. Mbok dirayu lah gitu.”
“Wah, sudah dari dulu Jeng. Tapi,
ya, tetap susah saja, tuh. Sebenernya ini, lho, Jeng Mar. Eh, maaf, ya, Jeng
kalo’ saya omongin. Tapi Jeng Mar tentunya juga tau dong masalah suami-istri
‘kan.”
“Ya, memang. Ya, orang-orang yg
sudah seperti kita ini masalahnya sudah macem-macem, toh, Bu. Sebenarnya Bu
Indah ini ada masalah apa, toh?”
“Ya, begini Jeng, suami saya itu
kalo’ bergaul sama saya suka cepet-cepet mau rampung saja, lho. Padahal yg
namanya istri seperti kita-kita ini ‘kan juga ingin membutuhkan kenikmatan yg
lebih lama, toh, Jeng.”
“O, itu, toh. Mungkin situ kurang
lama merayunya. Mungkin suaminya butuh variasi atau model yg agak macem-macem,
gitu.”
“Ya, seperti apa ya, Jeng. Dia
itu kalo’ lagi mau, yg langsung saja. Saya seringnya nggak dirangsang apa-apa.
Kalo’ Jeng Mar, gimana, toh? Eh, maaf lho, Jeng.”
“Kalo’ saya dan suami saya itu
saling rayu-merayu dulu. Kalo’ suami saya yg mulai duluan, ya, dia biasanya
ngajak bercanda dulu dan akhirnya menjurus yg ke porno-porno gitulah. Sama
seperti saya juga kalau misalnya saya yg mau duluan.””Terus apa cuma gitu saja,
Jeng.”
“O, ya tdk. Kalo’ saya yg merayu,
biasanya punya suami saya itu saya pegang-pegang. Ukurannya besar dan panjang,
lho. Terus untuk lebih menggairahkannya, ya, punyanya itu saya enyot dengan
mulut saya. Saya isep-isep.”
“ii.. Iih. Jeng Mar, ih. Apa
nggak jijik, tuh? Saya saja membayangkannya juga sudah geli. Hii..”
“Ya, dulu waktu pertama kali, ya,
jijik juga, sih. Tetapi suami saya itu selalu rajin, kok, membersihkan
gituannya, jadi ya lama-lama buat saya nikmat juga. Soalnya ukurannya itu, sih,
yg lumayan besar. Saya sendiri suka gampang terangsang kalo’ lagi ngeliat.
Mungkin situ juga kalo’ ngeliat, wah pasti kepengen, deh.”
“Ih, saya belon pernah, tuh,
Jeng. Lalu kalo’ suaminya duluan yg mulai begimana?”
“Saya ditelanjangi sampai polos
sama sekali. Dia paling suka merema-remas payudara saya dan juga menjilati
putingnya dan kadang lagaknya seperti bayi yg sedang mengenyot susu.”, kataku
sambil ketawa dan tampak Bu Indah juga tertawa.
“Habis itu badan saya dijilati
dan dia juga paling suka menjilati kepunyaan saya. Rasanya buat saya, ya,
nikmat juga dan biasanya saya semakin terangsang untuk begituan. Dia juga
pernah bilang sama saya kalo’ punya saya itu semakin nikmat dan saya disuruh
meliara baik-baik.”
“Ah, tapi untuk yg begituan itu
saya dan suami saya sama sekali belum pernah, lho, Jeng. Tapi mungkin ada
baiknya untuk dicoba juga, ya, Jeng. Tapi tadi itu masalah yg situ dijilatin
punyanya. Rasa enaknya seperti apa, sih, Jeng.”
“Wah, Bu Indah ini, kok, seperti
kurang pergaulan saja, toh.”
“Lho, terus terang Jeng. Memang
saya belon pernah, kok.”
“Ya, geli-geli begitulah. Susah
juga untuk dijelasin kalo’ belum pernah merasakan sendiri.” Lalu kami berdua
tertawa.
Setelah berhenti tertawa, aku
bertanya, “Bu Indah mau tau rasanya kalau gituannya dijilati?”
“Yah, nanti saya rayu, deh, suami
saya. Mungkin nikmat juga ya.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Apa perlu saya dulu yg coba?”,
tanyaku sambil bercanda dan tersenyum.
“Hush!! Jeng Mar ini ada-ada
saja, ah”, sambil tertawa.
“Ya, biar tdk kaget ketika dengan
suaminya nanti. Kita ‘kan juga sama-sama wanita.”
“Wah, kayak lesbian saja. Nanti
saya jadi ketagihan, lho. Malah takutnya lebih senang sama situ daripada sama
suami saya sendiri. Ih! Malu’ akh.”, sambil tertawa.
“Ah, Jeng ini.”
“Ee! Betul, lho. Mungkin bentuk
bulu-bulu gituannya Bu Indah penampilannya kurang merangsang. Kalo’ boleh saya
lihat sebentar gimana?”
“Wah, ya, gimana ya. Tapii.. ya
boleh, deh. Eh, tapi saya juga boleh liat donk punyanya situ. Sama-sama donk,
‘kan kata Jeng tadi kita ini sama-sama wanita.”
”Ya, ‘kan saya cuma mau bantu
situ supaya bisa usaha untuk punya anak lagi.”
”Kalo’ gitu kita ke kamar saja,
deh. Suami saya juga biasanya pulang malam. Yuk, Jeng.”
Langsung kita berdua ke kamar Bu
Indah. Kamarnya cukup tertata rapi, tempat tidurnya cukup besar dan dengan
kasur busa. Di dindingnya ada tergantung beberapa foto Bu Indah dan suaminya
dan ada juga foto sekeluarga dengan anaknya yg masih semata wayg. Saya kemudian
ke luar sebentar untuk telepon ke rumah kalau pulangnya agak telat karena ada
urusan dengan perkumpulan ibu-ibu dan kebetulan yg menerima suamiku sendiri dan
ternyata dia setuju saja.
Setelah kita berdua di kamar, Bu
Indah bertanya kepadaku,
“Bagaimana Jeng? Kira-kira siap?”
“Ayolah. Apa sebaiknya kita
langsung telanjang bulat saja?”
“OK, deh.”, jawab Bu Indah dengan
agak tersenyum malu.
Akhirnya kita berdua mulai
melepas pakaian satu-persatu dan akhirnya polos lah semua. Bulu kemaluan Bu
Indah cukup lebat juga hanya bentuknya keriting dan menyebar, tdk seperti
miliku yg lurus dan tertata dengan bentuk segitiga ke arah bawah. Lalu aku
menyentuh payudaranya yg agak bulat tetapi tdk terlalu besar, “Lumayan juga,
lho, Bu.” Lalu Bu Indah pun langsung memegang payudaraku juga sambil berkata,
“Sama juga seperti punya Jeng.” Aku pun minta ijin untuk mengulum kedua
payudaranya dan dia langsung menyggupi.
Kujilati kedua putingnya yg
berwarna agak kecoklat-coklatan tetapi lumayan nikmat juga. Lalu kujilati
secara keseluruhan payudaranya. Bu Indah nampak terangsang dan napasnya mulai
memburu.
“Enak juga, ya, Jeng. Boleh punya
Jeng saya coba juga?”
”Silakan saja.”, ijinku.
Lalu Bu Indah pun melakukannya
dan tampak sekali kalau dia masih sangat kaku dalam soal seks, jilatan dan
kulumannya masih terasa kaku dan kurang begitu merangsang. Tetapi lumayanlah,
dengan cara seperti ini aku secara tdk langsung sudah menolong dia untuk bisa
mendapatkan anak lagi.
Setelah selesai saling menjilati
payudara, kami berdua duduk-duduk di atas tempat tidur berkasur busa yg cukup
empuk. Aku kemudian memohon Bu Indah untuk melihat liang kewanitaannya lebih
jelas,
“Bu Indah. Boleh nggak saya liat
gituannya? Kok bulu-bulunya agak keriting. Tdk seperti milik saya, lurus-lurus
dan lembut.” Dengan agak malu Bu Indah membolehkan,
“Yaa.. silakan saja, deh, Jeng.”
Aku menyuruh dia,
“Rebahin saja badannya terus
tolong kangkangin kakinya yg lebar.” Begitu dia lakukan semuanya terlihatlah
daging kemaluannya yg memerah segar dengan bibirnya yg sudah agak keluar
dikelilingi oleh bulu yg cukup lebat dan keriting. mm.. Cukup merangsang juga
penampilannya.
Kudekatkan wajahku ke liang
kewanitaannya lalu kukatakan kepada Bu Indah bahwa bentuk kemaluannya sudah
cukup merangsang hanya saja akan lebih indah pemandangannya bila bulunya sering
disisir agar semakin lurus dan rapi seperti milikku. Lalu kusentuh-sentuh
daging kemaluannya dengan tanganku, empuk dan tampak cukup terpelihara baik,
bersih dan tdk ada bau apa-apa. Nampak dia agak kegelian ketika sentuhan
tanganku mendarat di permukaan alat kelaminnya dan dia mengeluh lirih, “Aduh,
geli, lho, Jeng.”
“Apa lagi kalo’ dijilat, Bu
Indah. Nikmat, deh. Boleh saya coba?”
“Aduh, gimana, ya, Jeng. Saya
masih jijik, sih.”
“Makanya dicoba.”, kataku sambil
kuelus salah satu pahanya.
“mm.. Ya, silakan, deh, Jeng.
Tapi saya tutup mata saja, ah.”
Lalu kucium bibir kemaluannya
sekali, chuph!!
“aa.. Aah.”, Bu Indah mengerang
dan agak mengangkat badannya. Lalu kutanya,
“Kenapa? Sakit, ya?” Dia
menjawab,
“Geli sekali.”
“Saya teruskan, ya?” Bu Indah pun
hanya mengangguk sambil tersenyum.
Kuciumi lagi bibir kemaluannya
berkali-kali dan rasa geli yg dia rasakan membuat kedua kakinya bergerak-gerak
tetapi kupegangi kedua pangkal pahanya erat-erat. Badannya
bergerinjal-gerinjal, pantatnya naik turun. Uh! Pemandangan yg lucu sekali, aku
pun sempat ketawa melihatnya. Saya keluarkan lidah dan saya sentuhkan ujungnya
ke bibir kemaluannya berkali-kali. Oh! Aku semakin terbawa napsu. Kujilati
keseluruhan permukaan memeknya, gerakanku semakin cepat dan ganas. Oh, Bu
Indah, memekmu nikmaa..aat sekali.
Aku sudah tak ingat apa-apa lagi.
Semua terkonsentrasi pada pekerjaan menjilati liang kewanitaan Bu Indah. Emm..,
Enak sekali. Terus kujilati dengan penuh napsu. Pinggir ke tengah dan gerakan
melingkar. Kumasukan lidahku ke dalam celah bibir kemaluannya yg sudah mulai
membuka. Ouw! Hangat sekali dan cairannya mulai keluar dan terasa agak asin dan
baunya yg khas mulai menyengat ke dalam lubang hidungku.
Tapi aku tak peduli, yg penting
rasa kemaluan Bu Indah semakin lezat apalagi dibumbui dengan cairan yg keluar
semakin banyak. Kuoleskan ke seluruh permukaan kemaluannya dengan lidahku.
Jilatanku semakin licin dan seolah-olah semua makanan yg ku makan pada saat
acara arisan tadi rasanya tdk ada apa-apanya. Badan Bu Indah bergerinjal
semakin hebat begitu juga pantatnya naik-turun dengan drastis. Dia mengerang
lirih.
“aa.. Ah, ee.. Eekh, ee.. Eekh,
Jee.. Eeng, auw, oo.. Ooh. Emm.. Mmh. Hah, hah, hah,.. Hah.” Dan saat mencapai
klimaks dia merintih,
“aa.., aa.., aa.., aa.., aah”,
Cairan kewanitaannya keluar agak banyak dan deras.
OK, nampaknya Bu Indah sudah
mencapai titik puncaknya.
Tampak Bu Indah telentang lemas
dan aku tanya,
“Bagaimana? Enak? Ada rasa puas?”
“Lumayan nikmat, Jeng. Situ nggak jijik, ya.”
“Kan sudah biasa juga sama
suami.” Kemudian aku bertanya sembari bercanda,
“Situ mau coba punya saya juga?”
“Ah, Jeng ini. Jijik ‘kan.”,
sembari ketawa.
“Yaa.. Mungkin belon dicoba.
Punya saya selalu bersih, kok. ‘Kan suami saya selalu mengingatkan saya untuk
memeliharanya.”
Kemudian Bu Indah agak berpikir,
mungkin ragu-ragu antara mau atau tdk. Lalu,
“Boleh, deh, Jeng. Tapi saya
pelan-pelan saja, ah. Nggak berani lama-lama.”
“Ya, ndak apa-apa. ‘Kan katanya
situ belum biasa. Betul? Mau coba?” tantangku sembari senyum.
Lalu dia cuma mengangguk.
Kemudian aku menelentangkan badanku dan langsung kukangkangkan kedua kakiku
agar terlihat liang kewanitaanku yg masih indah bentuknya. Tampak Bu Indah
mulai mendekatkan wajahnya ke liang kewanitaanku lalu berkata, “Wah, Jeng
bulu-bulunya lurus, lemas dan teratur. Pantes suaminya selalu bergairah.” Aku
hanya tertawa.
Tak lama kemudian aku rasakan
sesuatu yg agak basah menyentuh kemaluanku. Kepalaku aku angkat dan terlihat Bu
Indah mulai berani menyentuh-nyentuhkan ujung lidahnya ke liang kewanitaanku.
Kuberi dia semangat,
“Terus, terus, Bu. Saya merasa
nikmat, kok”. Dia hanya memandangku dan tersenyum.
Kurebahkan lagi seluruh tubuhku
dan kurasakan semakin luas penampang lidah Bu Indah menjilati liang kewanitaan
saya. Oh! Aku mulai terangsang. Emm.. Mmh. Bu Indah sudah mulai berani. oo..
Ooh nikmat sekali. Sedaa.. Aap. Terasa semakin lincah gerakan lidahnya, aku
angkat kepalaku dan kulihat Bu Indah sudah mulai tenggelam dalam kenikmatan,
rupanya rasa jijik sudah mulai sirna. Gerakan lidahnya masih terasa kaku,
tetapi ini sudah merupakan perkembangan. Syukurlah. Mudah-mudahan dia bisa
bercumbu lebih hebat dengan suaminya nanti.
Lama-kelamaan semakin nikmat. Aku
merintih nikmat,
“Emm.. Mmh. Ouw. aa.. Aah, aa..
Aah. uu.. uuh. te.. te.. Rus teruu..uus.” Bibir kemaluanku terasa dikulum oleh
bibir mulut Bu Indah.
Terasa dia menciumi kemaluanku
dengan bernafsu. Emm.. Mmh, enaknya. Untuk lebih nikmat Bu Indah kusuruh,
“Pegang dan elus-elus paha saya. Enak sekali Bu.” Dengan spontan kedua
tangannya langsung mengayunkan elusannya di pahaku. Dia mainkan sampai pangkal
paha. Bukan main! Sudah sama layaknya aku main dengan suamiku sendiri. Terlihat
Bu Indah sudah betul-betul asyik dan sibuk menjilati liang kewanitaanku.
Gerakan ke atas ke bawah melingkar ke seluruh liang kewanitaanku. Seolah-olah
dia sudah mulai terlatih.
Kemudian aku suruh dia untuk
menyisipkan lidahnya ke dalam liang kewanitaanku. Dahinya agak berkerut tetapi
dicobanya juga dengan menekan lidahnya ke lubang di antara bibir kemaluan saya.
“Aaa.. Aakh! Nikmat sekali. Aku
mulai naik untuk mencapai klimaks. Kedua tangannya terus mengelus kedua pahaku
tanpa henti. Aku mulai naik dan terasa lubang kemaluanku semakin hangat,
mungkin lendir kemaluanku sudah banyak yg keluar. Akhirnya aku pun mencapai
klimaks dan aku merintih,
“aa.. Aah, uuh”. Sialan Bu Indah
tampaknya masih asyik menjilati sedangkan badanku sudah mulai lemas dan lelah.
Bu Indah pun bertanya karena
gerak kaki dan badanku berhenti,
“Gimana, Jeng?” Aku berkata lirih
sambil senyum kepadanya,
“Jempolan. Sekarang Bu Indah
sudah mulai pinter.” Dia hanya tersenyum.
Aku tanya kembali,
“Bagaimana? Situ masih jijik
nggak?”
“Sedikit, kok.”, jawabnya sembari
tertawa, dan akupun ikut tertawa geli.
“Begitulah Bu Indah.
Mudah-mudahan bisa dilanjutkan lebih mesra lagi dengan suaminya, tetapi jangan
bilang, lho, dari saya.”
“oo.., ya, ndak, toh, Jeng. Saya
‘kan juga malu. Nanti semua orang tahu bagaimana?””Sekarang yg penting berusaha
agar putrinya bisa punya adik. Kasihan, lho, mungkin sejak dulu dia
mengharapkan seorang adik.”
“Ya, mudah-mudahan lah, Jeng.
Rejeki akan segera datang. Eh! Ngomong-ngomong, Jeng mau nggak kalo’
kapan-kapan kita bersama kayak tadi lagi?”
“Naa.., ya, sudah mulai
ketagihan, deh. Yaa, itu terserah situ saja. Tapi saya nggak tanggung jawab,
lho, kalo’ situ lantas bisa jadi lesbian juga. Saya ‘kan cuma kasih contoh
saja.”, jawabku sembari mengangkat bahu dan Bu Indah hanya tersenyum.
Kemudian aku cepat-cepat
berpakaian karena ingin segera sampai di rumah, khawatir suamiku curiga dan
berprasangka yg tdk-tdk. Waktu aku pamit, Bu Indah masih dalam keadaan
telanjang bulat berdiri di depan kaca menyisir rambut. Untung kejadian ini tak
pernah sampai terbuka sampai aku tulis cerita yg aneh dan lucu ini. Soal
bagaimana kemesraan Bu Indah dan suaminya selanjutnya, itu bukan urusan saya
tetapi yg penting kelezatan liang kewanitaan Bu Indah sudah pernah aku rasakan.
