Ketika menerima Surat Perintah untuk mengikuti training
dinas di luar kota, hatiku langsung berbunga-bunga bercampur bangga. Itu
artinya tak lama lagi aku akan dapat promosi. Tak sabar menunggu saat pulang
kerja, kutelepon istriku, sebut saja namanya Dona. Ia tak kalah gembira
menerima kabar dariku.
“Habis itu naik gaji dong, Mas?”, celetuk Dona. Aku hanya
tertawa menanggapinya.
Meski senang, tapi terbersit rasa sedih dalam hatiku, karena
training itu berlangsung selama 2 bulan. Sejak menikah dan punya anak belum
pernah aku meninggalkan istri dan anakku selama itu. Paling seminggu. Itu saja
aku sudah merasa sangat tersiksa didera kerinduan pada mereka.
Untungnya tempat tinggal mertuaku tak jauh dari rumahku.
Jadi aku bisa menitipkan istri dan anak semata waygku di sana selama aku pergi.
Surat Perintah yg kuterima 3 hari sebelum keberangkatan, dan
sehari sebelum berangkat perusahaan memberi libur 1 hari untuk mempersiapkan
diri. Aku bisa langsung berangkat tanpa harus melapor ke kantor lebih dulu.
Tapi karena aku masih ada tanggungan pekerjaan, aku ngantor sebentar, dan jam 9
pagi saat kerjaanku kelar aku pulang lagi.
Sampai di rumah kulihat Dona sedang mengepel lantai ruang
tengah. Ia sedang seorang diri, karena anakku sedang sekolah PAUD. Setiap hari
neneknya lah yg menjemput dan pulangnya kadang langsung ke rumah, kadang main
dulu di rumah beliau yg bersebelahan dengan sekolah anakku.
Pelan-pelan kututup dan kukunci pintu depan rumah. Hal ini
kulakukan karena aku ingin menikmati hari itu berdua saja dengan Dona. Maklum
mau pergi lama, aku harus manfaatkan betul kebersamaan dengannya
sepuas-puasnya, karena setelah itu “puasa” 2 bulan. Apalagi posisi mengepel
Dona yg nungging dengan daster agak basah, sehingga celana dalamnya tercetak
jelas di dasternya. Otomatis gairahku bangkit.
Begitu melepas sepatu aku pun langsung berlutut di belakang
Dona dan kemudian mengelus-elus pantatnya yg geyal-geyol itu. Ia sempat kaget,
tapi langsung tersenyum begitu melihatku.
“Dah pulang, Mas.?” tanyanya.
“Iya. Liat kamu, punyaku langsung nafsu, hehehe…” candaku.
“Aku ‘kan lagi ngepel, Mas. Ntar aja ya kalo dah selesai.”
katanya.
Aku tak menghiraukan tawarannya. Kusingkap bagian bawah
dasternya hingga ke atas pinggangnya yg aduhai itu hingga terlihat celana dalam
putihnya. Tak sampai sedetik celana dalam itu sudah terlepas. Dona menghentikan
mengepel dan menolehku tanpa sepatah kata, karena ia tahu apa yg kuinginkan.
Dona hanya pasrah saja saat kuciumi, kujilati dan sesekali
kukecup dengan hisapan di pantat lalu menjalar ke vegy-nya, sementara jari
tanganku menyusup di selangkangannya untuk mengerjai sang vegy. Sesekali ia
mendesah lirih. Lama-lama vegy-nya basah, entah karena ludahku atau karena
pelumasnya sudah mulai keluar. Aku berdiri sebentar untuk melepas celana dan
celana dalamku dan kemudian kembali ke posisi berlutut di belakang Dona.
Vegy-nya kugesek-gesek dengan kepala batangku yg diiringi dengan desah syahdu
Dona.
Karena aku sudah tak tahan lagi, kudorong pantatku untuk
memasukkan batangku ke dalam vegy Dona. Desah kenikmatan kami bersahut-sahutan,
mengiringi tiap pergerakan batangku dalam vegy Dona yg masih terasa sempit.
Mungkin karena ketika melahirkan dulu melalui operasi caesar yg terpaksa
dilakukan karena pinggulnya kecil.
Mula-mula aku bergerak perlahan dan lembut untuk menikmati
nikmat
nya vegy sempit Dona. Seiring dengan meningkatnya rangsangan yg tercipta
di setiap pompaanku, lama kelamaan genjotan pantatku makin cepat, sehingga
menimbulkan suara tepukan di setiap benturan pinggulku di pantat Dona. Suara
tepukan-tepukan itu seolah bersaing dengan desah dan erangan nikmat istriku yg
selalu terdengar syahdu dan merangsang di telingaku.
Gara-gara lantai yg masih basah oleh air dan obat pel serta
genjotan hebohku, lututku terpeleset hingga membuat Dona terdorong dan jatuh
telungkup di lantai dengan batangku yg masih menyumpal vegy-nya. Karena sedang
sama-sama diliputi birahi tinggi kami berdua meneruskan acara persetubuhan
dengan posisi aku menindih pantat Dona. Tak lama kemudian ia memekik agak
sedikit keras karena dia telah mencapai puncaknya. Meski begitu aku terus saja
memompanya. Kurasakan vegy Dona berkedut-kedut cukup lama dan kuat.
“Mas, aku lemes banget”, kata Dona dengan nafas
tersengal-sengal.
Kuhentikan genjotanku dengan membenamkan dalam-dalam
batangku di vegy-nya.
“Tapi aku belum keluar nih … Terus gimana?”, aku bicara
dengan nafas yg juga memburu.
“Ya udah terusin aja, tapi ganti aku telentang aja ya mas.
Jangan lupa nanti kamu harus nerusin ngepelku sampe selesai, soalnya aku lemes
banget nanti”, jawabnya.
“Iya deh… Yg penting bisa enak-enakan sama kamu, sayang”,
rayuku.
Dona pun telentang dengan daster yg sudah tersingkap di atas
dada besarnya yg tak mengenakan BH. Begitu ia mengangkang kuterobos
selangkangannya dengan batangku yg langsung menghunjam deras ke vegy-nya.
Kutekuk tubuhku di atas tubuh Dona, sehingga aku bisa mengisap dan menjilati
putingnya, sementara pinggulku bergoyg memompanya. Tak lama kemudian Dona
memekik tertahan dan mengangkang makin lebar disertai goygan pinggulnya.
Rupanya ia orgasme lagi, yg terasa melalui denyutan dinding vegy-nya yg seperti
meremas-remas dan menghisap batangku. Aku pun mempercepat goyganku karena
merasa akan mencapai klimaks.
Kami saling berpelukan sambil berbaring di lantai yg masih
basah sesaat setelah spermaku memancar di dalam vegy istriku tercinta. Sesekali
kami berciuman dengan nafas yg tak beraturan.
“Kamu ganas banget, Mas” celetuk Dona.
Aku terkekeh,
“He he he … Abis aku nafsu liat pantatmu pas ngepel tadi”.
“Mandiin aku, Mas. Aku lemes banget nih. Tapi inget … di
kamar mandi nanti jangan digenjot lagi loh”, katanya.
“Yaah … Gimana dong kalo aku nafsu lagi waktu mandiin kamu?”
rengekku mesra.
“Ya udah, Mas selesaiin aja ngepelnya. Aku mandi sendiri aja
daripada nanti dibikin lemes lagi”, jawab Dona sambil tersenyum manja.
Apa boleh buat. Karena upah ngepelnya sudah kunikmati, jadi
tinggal ngepelnya. Memang sih biasanya kalau Dona lagi sibuk, terus aku ajak
tempur, ujung-ujungnya pasti aku yg harus ngelanjutin kerjaanya. Entah itu
nyapu, ngepel atau cuci piring. Tapi bagiku itu tak masalah, karena itung-itung
ikut meringankan tugasnya. Biasanya setelah aku ajak tempur istriku langsung
tidur walaupun sebentar. Dia bilang, kalau habis kugenjot badannya jadi lemes
banget. Lucunya, saat ia bangun dan kuajak tempur lagi dia oke-oke saja. Hal
itu membuatku geleng-geleng kepala karena geli. Selesai ngepel aku mandi lagi
dan menyusul Dona ke kamar untuk tidur di sampingnya yg sudah terlelap
kelelahan.
Ketika bangun jam 2 siang kulihat Dona sudah tak ada di
sampingku. Sayup-sayup kudengar suara berisik dari dapur. Rupanya ia lagi
menyiapkan makan siang. Setelah makan bersama, aku dan Dona menjemput anakku di
rumah neneknya. Kami di sana sampai sore, karena kebetulan saat itu ada
beberapa saudara kami yg datang juga, sehingga banyak keponakan kami yg
seumuran dengan anakku bermain bersama sampai menjelang malam. Itulah sebabnya
ia merengek tak mau diajak pulang dan ingin menginap di rumah neneknya, karena
banyak temannya. Aku dan Dona pun akhirnya pulang berdua saja.
Sampai di rumah aku beres-beres, mempersiapkan keperluan
untuk kubawa dalam training selama 2 bulan itu. Jam 8 malam baru selesai
beres-beresnya dan aku makan malam bersama Dona. Kebetulan dia bawa sayur dan
lauk dari rumah orangtuanya, jadi tak perlu repot-repot masak lagi.
Usai makan aku dan Dona ke ruang tengah untuk nonton TV.
Kami duduk di karpet sambil bersandar di dinding. Lagi enak-enaknya nonton TV
tangan nakalku bergerilya ke tubuh Dona yg mengenakan daster putih. Mungkin
karena suasana sepi, jadi timbul keusilanku. Istriku tahu kalau aku sedang
nafsu lagi, jadi dia pun mendahului memagut bibirku, sementara tanganku terus
menjelajahi tubuhnya. Ketika sudah sama-sama terangsang, kami pun melepas
pakaian masing-masing sampai bugil.
“Aduh, Mas. Aku kepingin main, tapi filmnya bagus. Main di
sini aja yuk?” ajaknya.
Aku sih tak masalah mau main di mana saja. Karena saat itu
hanya aku berdua saja dengan Dona, main di ruang tengah pun jadi. Memang kami
jarang tempur di selain kamar kami ada anak kami. Kubuka kedua kaki Dona hingga
ia mengangkang sambil duduk dan aku langsung tiarap di antara kedua kakinya
agar bisa menyerbu vegy-nya dengan mulutku.
Sesekali Dona mengerang, tetapi dengan pandangan tak lepas
dari TV. Entah apakah dia masih konsentrasi dengan film yg ditontonnya atau
tdk, yg jelas aku terus menjilati vegy istriku yg kuanggap paling indah dan
nikmat itu. Jariku pun tak tinggal diam. Kususupkan jemariku di antara lidahku
ke dalam vegy Dona keluar-masuk sambil mengait-ngait ke arah atas bibir vegy-nya.
Aku terus melakukan itu sampai-sampai Dona membekap mulutnya
sendiri agar tak mengeluarkan suara. Mungkin takut terdengar tetangga atau
orang yg lewat depan rumah. Memang jika aku mengait-ngaitkan jariku ke bagian
atas vegy istriku akan membuatnya cepat orgasme dan keluar cairan yg lumayan
banyak. Begitu pun malam itu. Dalam waktu yg tak terlalu lama Dona memekik
tertahan dengan tangannya masih membekap mulutnya sendiri. Tubuhnya mengejang
dan dari vegy-nya keluar cairan dengan deras, bahkan sempat juga muncrat
sekali.
“Mas, udah, Mas. Jangan di gituin terus. Ngilu …” desisnya.
“Giliran aku yah?” pintaku.
Dona hanya menganggukkan kepalanya. Ia beranjak dari
duduknya dan aku telentang di dekatnya. Tangan hangat Dona mulai meremas lembut
batangku dan disusul mulutnya untuk memberi kehangatan pada batangku.
Jilatan-jilatan lidahnya sambil tangan kanannya meremas “telorku” membuat
pori-poriku meremang dan panas-dingin. Terlihat sekali ia menjiwai oralnya demi
untuk menyenangkan suami.
Mulut istriku bergerak naik-turun di sepanjang batangku
membuatku semakin bernafsu padanya. Kuremas-remas payudaranya sambil sesekali
memilin-milin putingnya dengan lembut dan penuh perasaan.
Kuluman-kuluman Dona pada batangku biasanya hanya sebentar.
Tak terkecuali saat itu karena katanya dia tak terlalu pintar dalam hal oral.
Selain itu, mulut dan rahangnya jadi pegal kalau kelamaan mengoral. Aku bisa
memaklumi itu dan tak memaksanya untuk mengulum terus. cerita sex
Istriku kemudian beralih duduk di pangkuanku dengan posisi
membelakangiku sambil mengarahkan batangku untuk masuk ke dalam vegy-nya.
Begitu batangku ambles ke dalam vegy-nya, Dona pun mulai menggerakkan
pinggulnya naik-turun sambil pandangannya tertuju ke TV. Sungguh hebat istriku
ini. Walau bagaimanapun keadaannya dia tetap mau melayaniku. Ibarat sambil
menyelam minum air, ia tetap bisa menikmati jalannya film (entah dia masih
fokus dengan filmnya atau tdk) sambil memberiku kenikmatan melalui aksi
pinggulnya yg begitu luar biasa, yg kadang berupa putaran-putaran kadang
naik-turun. Itu yg membuatku makin cinta padanya.
“Mas, genjotin dari bawah dong. Aku capek nih”, pinta Dona.
Ia langsung berpegangan di lututku yg kutekuk ke atas agar
aku bisa dengan mudah memompa vegy istriku dari bawah. Hanya saja dalam posisi
ini suara tepukan yg timbul jadi tambah keras. Itulah sebabnya kami ganti
posisi lagi dengan istriku menungging dan aku berlutut di belakangnya untuk
memasukkan kembali batangku ke dalam vegy-nya
Genjotanku santai tapi sangat menekan ke dalam, sehingga
tubuh Dona berkali-kali ikut terdorong ke depan. Kemudian ia menurunkan
kepalanya seperti sedang bersujud. Biasanya jika ia sudah mengambil posisi
seperti ini berarti sedang menjelang kilmaksnya. Jadi aku langsung mempercepat
pompaanku karena memang aku juga sudah di ujung.
Tak lama kemudian Dona menutup mulutnya sendiri dengan satu
tangannya. Bersamaan dengan itu batangku merasakan kedutan-kedutan khas saat
orgasme dan entah kenapa kedutan-kedutannya begitu kuat dan lama, hingga aku
tak bisa lagi menahan spermaku. Jadilah vegy istriku malam ini banjir spermaku
yg bercampur dengan cairannya hingga menetes-nestes di karpet.
Keesokan harinya aku berpamitan pada Dona dan mertuaku.
Sengaja Dona dan anak kami kutitipkan pada beliau agar aku bisa mengikuti
training dengan tenang. Memang berat sekali hati ini meninggalkan mereka untuk
2 bulan ke depan, tapi demi tugas dan masa depan karirku, kukuatkan batinku.
Aku pun berangkat sendiri dengan bermobil menuju tempat training yg berada di
luar kota.
Hari pertama training hanya diisi dengan pembukaan dan
perkenalan yg berlangsung tak sampai tengah hari dan para peserta dipersilakan
untuk istirahat agar besok dapat mulai mengikuti training. Kebetulan di tempat
training itu ada mess yg dilengkapi dengan fasilitas wifi, jadi aku menginap di
sana.
Malamnya, usai mandi aku mulai browsing di internet dengan
laptop yg kubawa. Tanpa sengaja aku menemukan situs yg menawarkan program
terapi untuk memperbesar k0ntol denga panduan e-book. Iseng-iseng aku
memesannya karena harganya relatif murah. Setelah melalui proses pembayaran
lewat kartu kredit, e-book yg kubeli dijanjikan akan dikirim beberapa jam
kemudian.
Keesokan harinya, sepulang dari training yg dimulai jam 7
pagi dan selesai jam 5 sore aku membuka e-mailku. Ternyata e-book yg kupesan
sudah masuk dan langsung kubaca dengan seksama.
Menurutku penjelasannya cukup
sistematis dan logis, apalagi ada testimonial dari beberapa penggunanya yg
mengatakan berhasil. Entah itu benar atau sekedar rekayasa pengelola e-book,
aku tak peduli. Yg penting aku ingin membuktikan sendiri manfaat dari terapi yg
tertuang dalam e-book itu, yg bahkan juga menyatakan bisa bertahan lebih lama
di ranjang. Malam itu juga aku menyiapkan semua yg kubutuhkan untuk mencoba
terapi itu.
Aku tak lagi sempat mengukur batangku karena tak tegang.
Mungkin karena tak ada istriku, jadi dia ngambek tak mau tegang, hehehe …
Kuikuti betul-betul semua petunjuk dan cara melakukan terapi yg ternyata
mengasyikkan. Aku enjoy saja melakukannya, itung-itung untuk menghilangkan
stres dan kejenuhan akibat beban training. Tiap malam aku rutin melakukan
terapi itu, kupikir walaupun nantinya tak membuahkan hasil, tapi setdknya aku
bisa menghilangkan stres.
Jauh dari istri anak yg semula berat bagiku lama-lama jadi
tak terasa, karena di samping kesibukan training, aku punya kegiatan sampingan
melakukan terapi.
Ternyata, masa training yg seharusnya selesai dalam waktu 2
bulan harus diperpanjang lagi selama 2 minggu karena para peserta training
belum bisa menyelesaikan program dan terapannya di lapangan. Kabar itupun
kusampaikan pada Dona dan ia tetap memberikan semangat, walaupun sebenarnya ia
sudah sangat rindu padaku. Akan halnya terapi yg kujalani tak kuceritakan pada
Dona, karena kuanggap tak penting dan hanya sekedar iseng untuk mengobati stres
saja.
Untungnya, perpanjangan waktu yg semula dijadwalkan selama 2
minggu berhasil diselesaikan oleh peserta training dalam waktu 6 hari. Dengan
demikian, maka pada hari ketujuh kami mengadakan perpisahan sekaligus penutupan
training, esoknya kami pulang ke rumah masing-masing. Kukabarkan hal itu pada
Dona dan ia terdengar sangat gembira.
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan dengan mobil aku
langsung meluncur ke rumah mertuaku. Hari sudah agak sore sekitar jam lima.
Ternyata saat itu banyak saudara-saudara yg datang, sehingga rumah mertuaku
ramai sekali. Lagi-lagi anakku tak mau diajak pulang karena banyak teman
sebayanya di sana. Neneknya juga malah senang kalau cucu-cucunya nginap di
rumahnya yg lumayan besar. Akhirnya hanya aku dan istriku yg pulang ke rumah.
Sampai di rumah aku langsung mandi, sementara Dona memberesi semua perlengkapan
yg kubawa.
Saat. makan malam aku dan Dona saling cerita pengalaman
masing-masing, terutama yg lucu. Aku cerita tentang kejadian menggelikan saat
training, sedangkan Dona cerita tentang kelucuan-kelucuan anak kami. Setelah
makan kami membereskan ruang makan dan setelah itu aku nongkrong di ruang
tengah untuk nonton TV, sementara Dona mencuci piring. Setelah itu ia bergabung
denganku di ruang tengah. Di situ kami melanjutkan obrolan disertai tawa renyah
kami berdua saat yg mengobrolkan hal-hal lucu.
Sebenarnya aku sudah kangen banget dengan tubuh Dona, tapi
aku masih ingin bercerita dan melepas rindu dan sepertinya istriku juga sama
sepertiku. Tapi ketika perutku sudah tak begitu terlalu kenyg aku tak bisa lagi
menahan gairahku, kutarik pinggang Dona dan kuciumi bibirnya dengan lembut yg
langsung ditanggapi olehnya. Tanganku pun sudah gatal dan langsung menggeraygi
tubuh Dona yg berbalut daster pink. Jemariku bisa merasakan kalau dia tak pakai
BH dan celana dalam. Sungguh istri yg baik dan pengertian, mempersiapkan
dirinya untukku.
“Mas, pindah ke kamar aja yuk. Aku juga dah kangen banget
sama Mas”, kata Dona dengan nada mesra.
“Ya udah, aku matiin tv dulu. Pintu sama jendela dah dikunci
semua belum?” tanyaku.
“Udah semua kok, Mas. cuman punyaku aja yg udah siap dibuka”
godanya.
“Awas ya… tak bikin lemes..”, candaku.
“Ih…mau…”, balasnya.
Setelah menutup pintu kamar aku sudah tak tahan lagi,
Istriku langsung kurebahkan di tempat tidur dan kutelanjangi. Kuhisap semua
ludahnya dan keberi cupangan pada leher dan dadanya, sambil terus menghisapi
putingnya. Aku pun bergegas menelanjangi diriku juga untuk kemudian menyergap
vegy Dona yg begitu menggairahkan di pandang mata. Aku melakukan oral padanya
hanya sebentar karena kulihat vegy-nya sudah cukup basah.
“Mas, langsung masukin aja aku dah kepingin banget …”,
desahnya.
Tanpa dikomando dua kali aku beranjak ke atas tubuhnya dan
langsung mengarahkan batangku menuju lubang vegy-nya dengan tanganku. Anehnya
saat itu kurasakan ada yg beda. Sepertinya vegy Dona lebih sempit dari 2 bulan
yg lalu. Kupikir mungkin gara-gara lama tak dipakai, sehingga vegy-nya
menyempit. Tampaknya Dona juga merasakan hal yg sama. Kulihat ia agak meringis,
entah kesakitan, entah keenakan.
“Ada apa sayang?”, tanyaku.sambil mengusap rambutnya.
“Kok kayaknya ada yg berubah sama punyamu, Mas?”, tutur Dona
dengan ekspresi keheranan.
“Batangnya kok jadi kayak gede banget, terus keras banget
kayaknya di dalem …” lanjutnya.
“Mungkin karena 2 bulan gak kemasukan batangku, punyamu jadi
nyempit” jelasku.
“Coba keluarin dulu, Mas. aku mau liat”, pintanya.
“Mas, perasaan batangmu kok tambah gedek, mana keras banget
lagi” kata Dona sambil
mennggenggam batangku.
“Mungkin perasaanmu aja”, jawabku sekenanya.
“Nih coba perhatiin. Dulu kalau batangmu kupegang dari
pangkalnya satu genggam aja cukup walaupun kepalanya masih nongol. Lah sekarang
ini tanganku dah kanan-kiri ngenggam dari pangkalnya kepalanya masih nongol
juga”, jelas istriku.
“Bener juga ya?”, ujarku tak kalah heran.
“Nih, batangnya mas ini sekarang keras banget. Itu kerasa
banget kayak ada batu di dalemnya. Mana kepalanya kok juga nambah gede kayak
jamur gini sih?” lanjutnya masih dengan ekspresi keheranan.
“Emang mama gak enak kalau tambah gede? Gak seneng ya?”
“Hehehe…seneng banget, Mas… Tapi kok bisa jadi nambah gede
gini sih?”
“Ye… Aku ‘kan yg dimasukin, jadi ya ngerasa beda lah.
Walaupun dah 2 bulan punyaku juga masih ingetlah dengan punyamu, mas”.
Aku tak lagi sempat menjawab karena Dona tiba-tiba mengulum
batangku walaupun memang tak semua batangku masuk seperti 2 bulan sebelumnya yg
bisa masuk semua kedalam mulutnya. Selain itu ada sedikit perubahan, karena kalau
batangku sudah dimasukkan ke dalam vegy-nya ia gak pernah mau memasukkannya
lagi ke dalam mulutnya. Mungkin karena risi dengan cairannya sendiri yg
menempel di batangku. Jadi kubiarkan saja Dona menyalurkan kangennya untuk
mengulum batangku sepuasnya yg sudah lebih besar dari 2 bulan sebelumnya.
Kupandangi Dona yg sibuk memainkan batangku keluar-masuk
dalam mulutnya sambil satu tangannya meremas-remas “buahku” dan satu lagi
seperti sedang mengocok sebagian batangku yg tak masuk dalam mulutnya. Beberapa
saat kemudian Dona naik ke pangkuanku sambil mengarahkan batangku untuk
memasuki vegy-nya yg sempit itu.
Ia kemudian bergoyg seperti memutar-mutar pantatnya sampai
seperti batangku mengaduk-aduk vegy-nya. Luar biasa sekali gerakannya karena
tak biasanya ia sedahyat ini ketika menggoyg batangku. Suara erangannya seperti
tak dihiraukan walaupun dia terkadang seperti menahan suaranya, tapi masih saja
kadang-kadang kelepasan.
Mungkin karena terlalu ganas, tak sampai 5 menit Dona sudah
mengejang dengan liang vegy-nya yg berkedut-kedut dengan kuat seperti vacum
cleaner. Ia rebahkan tubuhnya di dadaku dengan lunglai dan terengah-engah. Saat
kedutan-kedutannya sudah mereda kutelentangkan Dona dengan batangku yg masih
tetap bersarang di dalam vegy nikmatnya. Tiba giliranku untuk memompanya.
Ketika kupompa dengan pelan tapi lebih menekan ke dalam
kurasakan kepala batangku seperti mentok di dalam sana. Entah apakah Dona
merasakannya juga atau tdk, tapi ketika kutekan sampai mentok kulihat ia
menengadahkan kepalanya sambil kedua telapak tangannya meremas bantal, persis
seperti ekspresi bintang porno yg merasakan batang pemain yg besar.
Aku terus saja memompa dan memompa, tapi belum kurasakan
tanda-tanda kalau aku akan segera selesai. Malah istriku memelukku dengan erat
sebagai tanda kalau dia sedang menjelang orgasmenya. Kembali kurasakan
sedotan-sedotan dari vegy Dona itu. Nikmat sekali. Rasaanya batangku seperti
disedot-sedot ke dalam oleh vegy-nya. Kalau sudah begini biasanya aku segera
ikut orgasme, tapi saat itu kok belum kurasakan sama sekali tanda-tanda kalau
aku akan klimaks. Dona sampai ngos-ngosan seperti baru lari dikejar orang
sekampung.
“Mas, kamu kok belum keluar sih?”, katanya dengan nafas
memburu.
“Gak tau nih. Kok aku belum berasa mau keluar. Terusin lagi yah?”.
“Iya deh. Bantu aku nungging, Mas. Biar tambah sempit, biar
mas cepet keluar”.
Aku pun membantu Dona menungging dengan kepalanya tetap di
atas bantal. Sekali lagi kupompa vegy Dona dengan genjotan yg cetar membahana.
Walaupun kurasakan vegy-nya sangat sempit, tapi karena dia sudah dua kali
keluar, jadinya licin, sehingga genjotanku berjalan dengan lancar jaya.
Dona
nungging dengan kedua kakinya yg merapat erat, sementara tanganku berpegang di pinggangnya untuk membantuku memompa Biasanya kalau dikasih jepitan gaya ini
aku akan segera keluar dan aku juga berharap begitu, karena aku kasihan pada
Dona yg kelihatan sudah lemas sekali.
Suara tepukan tubuh kami tak lagi kami hiraukan. Bahkan
istriku tak lagi mampu berteriak, mungkin karena sudah terlalu lemas. Ia hanya
sesekali mengerang ketika kutancapkan dalam-dalam batangku pada vegy-nya. Aku
mempercepat pompaanku, hingga suara tepukan yg timbul semakin sering terdengar,
bersahut-sahutan dengan desah dan erangan kami. Dengan gaya ini cukup
memberikan nikmat yg maksimal untuk batangku, tapi sayangnya ketika aku sedang
konsentrasi untuk klimaks ternyata istriku sudah menduluiku. Erangannya panjang
dan kontraksi vegy-nya juga kuat sekali, sampai aku ikut mengerang
merasakannya.
Tak kuhiraukan orgasme istriku, karena aku merasakan akan
segera keluar juga. Kugenjot terus vegy Dona dengan cepat, hingga istriku
seperti meraung-raung. Aku berkonsentrasi agar nikmatnya vegy istriku yg sedang
berkontraksi dapat membuatku menyusul klimaksnya. Pompaanku makin cepat dan
tanpa henti di vegy-nya yg terus menimbulkan suara tepukan dan kecipak cairan
Dona yg sudah banjir.
Badanku mengejang bersamaan dengan kencangnya
pompaan-pompaanku dan kurasakan semakin dekat dan semakin dekat. Sayangnya
kembali tubuh istriku meregang akibat orgasmenya yg diikuti dengan kontraksi
vegy-nya. Saat itulah aku mengalami ejakulasi. Spermaku terasa menyembur sangat
kuat sekali dan banyak, hingga cukup lama aku mengejang bersama-sama istriku yg
langsung telungkup di tempat tidur.
Aku masih bersimpuh di atas tubuh Dona dengan rasa nikmat yg
luar biasa. Melelahkan sekali, tapi sensasional. Aku benar-benar puas.
Pelan-pelan aku beringsut, lalu kubaringkan tubuhku di samping Dona. Herannya,
ternyata ia sudah tidur pulas. Aku hanya tersenyum melihatnya. Kukecup
punggungnya, lalu kutarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang kami.
Ketika pagi harinya aku sedang bersantai ditemani Dona
sambil menikmati pisang goreng dan kopi hangat buatannya, kami ngobrol tentang
apapun dan tentang kejadian malam itu.
“Kira-kira punyaku mau di gedein lagi gak ya?”, tanyaku.
“Waduh, Mas. Punyamu segede itu aja aku udah kuwalahan,
apalagi mau digedein lagi. Emang punyamu mau dimasukin ke mana? Punyaku segitu
aja udah kuwalahan”, protesnya.
“Kirain kurang gede. Ya nanti aku terapi lagi …”, kataku
iseng.
“Ampun deh! Semalem aja aku hampir pingsan!!!”, Dona memelototiku.
Walaupun sebelumnya aku dan Dona sudah bahagia, tapi dengan
bertambahnya ukuran batangku, aku merasa sangat senang dan bahagia bisa
memaksimalkan kebahagiaan kami berdua, khususnya dalam hal nafkah rohani. Dan
semoga keluarga kami selalu dapat menjalani hidup dengan damai dan bahagia,
baik di ranjang maupun di kehidupan ekonomi kami. Amin.
